TUGAS MAKALAH
PENGANTAR ILMU EKONOMI
PERBEDAAN
SISTEM EKONOMI ISLAM DENGAN KONVENSIONAL
Oleh :
RODIANSYAH
E10014007
A
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITS JAMBI
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan
atas kehadrat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufiq, hidayah serta
inayanya sehinggah saya dapat menyelesaikan penulisan karya Tulis Ilmiyah yang
berjudul “Perbedaan Ekonomi islam
dengan konvensional “. Sholawat Serta salam tak lupa penulis curahkan kepada
baginda besar Nabi Muhammad SAW, karena dialah suri tauladan bagi kita dari
zaman kegelapan menuju jalan yang terang benderang.
Penulis menyusun Karya Tukis Ilmiyah ini untuk menyelesaikan tugas mata
pelajaran Pengantar ekonomi islam yang telah di berikan dosen kami kepada saya
serta sebagai sarat bagi saya untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang
berikutnya.
Penulis sangat menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiyah ini masih banyak
kekurangan maka dari itu penulis mohon keritik dan sarannya yang bersifat
membangun dari semua pihak sangat saya harapkan.
Akhir kata
saya memohon kepada Allah SWT agar saya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang
benar yang di ridhoi olehnya. Semoga Karya Tulis Ilmiyah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Jambi, Mei 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Selama
beratus-ratus tahun, sebagian penduduk dunia baik itu muslim maupun non muslim,
mengkiblatkan Ekonomi Konvensional sebagai panutan kegiatan perekonomian
mereka. Terlebih umat muslim tidak menggunakan dan mengaplikasikan Ekonomi
Islam sebagai kiblat kegiatan perekonomian mereka, bahkan mereka pun tidak
banyak mempunyai pengetahuan tentang Ekonomi Syariah atau Islam tersebut.
Ekonomi konvensional memilik banyak kelemahan yang merugikan rakyatnya. Dari
tujuannya pun sudah merugikan rakyatnya, jauh dari mensejahterakan. Bukannya
membuat sejatera para rakyatnya, malah membuat “Yang
kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin.” Sungguh ironis sekali.
Ekonomi Islam yang kini terasa baru hadir
seperti memberi angin segar bagi para masyarakat yang merindukan
kesejateraan. Padahal, ekonomi syariah itu telah lahir lebih dulu, lebih lama
dibanding dengan ekonomi konvensional. Hal itu dikarenakan umat muslim yang
tidak menyadari memiliki asset yang sangat berharga ini
Suatu
masalah akan terus berkembang seiring
kemajuan zaman, salah atunya yang sering kita jumpai dan sangat intim terutama pada masalah ekonomi dan untuk itu saya akan membahas masalah tersebut di dalam
makalah ini dan kemungkinan akan mempermudah dalam memahami permasalahan
tersebut, penulis berinisiatif menyusun
karya tulis ilmiyah yang berjudul “Perbedaan sistem ekonomi islam dengan konvensional”.
B. Rumusan Masalah
1. Perbedaan antara ekonomi islam dengan konvensional
2. Ciri khas ekonomi syariah
C. Tujuan
pembahasan
1. Memahami perbedaan antara ekonomi
slam dengan konvensional.
2. Mengetahui Ciri khas ekonomi syariah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan
Ekonomi Islam dengan Ekonomi Konvensional
Sekitar tahun 1998, ekonomi
islam mulai masuk ke Indonesia. Ini ditandai dengan berdirinya salah satu bank
islam. Seiring waktu berjalan terutama ketika krisis global yang terjadi tahun
2010 dan suksesnya ekonomi islam yang tidak terlalu terpengaruh oleh krisis
global membuat banyak pasang mata yang tidak memandang sistem ini dengan
sebelah mata lagi. Dari periode tersebut hingga sekarang berbagai lembaga
keuangan baik bank maupun non-bank berusaha menampilkan produk-produk syariah.
Tidak hanya di Indonesia, bahkan sekarang dunia secara tidak langsung terbagi
atas dua ilmu ekonomi, yaitu ekonomi konvensional dan ekonomi islam.
Sebenarnya,
penyebutan “ekonomi konvensional” ini marak disebutkan ketika ekonomi islam
mulai merajalela yang mana sebelumnya masih kita sebut “ekonomi”. Kata ekonomi
sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu oikos (rumah tangga) dan
nomos (aturan) yang mana bila disatukan berarti “aturan rumah tangga”. Jika
dilihat devinisinya bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat
dalam usahanya mencapai kemakmuran. Sedangkan ekonomi islam memiliki devinisi
yang berbeda, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia untuk
mencapai kemaslahatan bersama juga untuk mencapai falah dunia dan
akhirat. Maksudnya ialah ekonomi islam dalam kegiatan ekonominya bertujuan
untuk mencapai kemakmuran (maslahah) bersama dan tidak hanya itu,
ekonomi islam juga berpikir panjang bagaimana mencapai kejayaan (falah)
dunia dan akhirat. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ekonomi konvensional
yang tidak lain tujuan utamanya mencapai kesejahteraan semata. Padahal jika
kita sedikit teliti tolak ukur untuk mencapai kesejahteraan setiap individu
berbeda. Ada keluarga atau individu yang hidup sederhana merasa sudah sejahtera
di lain pihak ada keluarga atau individu yang hidup berkecukupan tapi masih
merasa kurang atau bahkan belum sejahtera.
Dalam kegiatan ekonomi itu
sendiri tidak terlepas dari suatu permasalahan. Di ekonomi konvensional kita
mengenal scarcity (kelangkaan), yaitu suatu permasalahan ekonomi yang
disebabkan oleh kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedang alat pemuas
kebutuhan terbatas. Sedangkan dalam ilmu ekonomi islam tidak mengenal adanya
scarcity (kelangkaan). Ini dikarenakan Tuhan dalam membuat segala sesuatunya di
dunia ini tidak terbatas (bisa dilihat pada surat Al-Qamar (54:49). Lantas apa
yang membuat masyarakat merasa alat pemuas kebutuhannya terbatas? Ekonomi islam
berpendapat bahwa ini bukan disebabkan oleh kelangkaan, melainkan
beberapa diantaranya kurangnya kemampuan manusia dalam mengolah sumber daya
yang ada dan pendistribusiannya yang masih belum merata, sehingga di beberapa
daerah merasa komoditi yang mereka butuhkan menjadi terbatas. Ini berbeda
dengan ekonomi konvensional yang mengatakan bahwa seolah-olah sumber daya yang
ada di alam terbatas untuk kebutuhan hidup manusia. Selain itu dalam ekonomi
konvensional dikenal bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas yang berarti
manusia secara tidak langsung akan memenuhi hawa nafsunya atas apa yang
diinginkannya. Sangat tidak berbanding lurus tentunya karena yang disebut
kebutuhan adalah sesuatu yang pokok, yang harus dipenuhi, yang mana jika tidak
dipenuhi akan mengganggu kelangsungan hidup manusia.
Bila kita memperhatikan dari
berbagi teori ilmu ekonomi konvensional ada satu hal yang kurang, yaitu tidak
dimasukkannya elemen nilai dan norma. Sehingga kita tidak jarang melihat
banyaknya saling sikut yang tidak sehat entah itu dalam memasarkan produknya,
menarik minat konsumen, bahkan tidak sedikit yang menipu konsumen agar mendapat
keuntungan yang besar. Disinilah ekonomi islam membuat perbedaan yang cukup
signifikan sekaligus sulit untuk diterapkan dewasa ini. Hal ini disebabkan
masih terjebaknya masyarakat sekarang akan pemikiran lama yang mengatakan
dengan modal sekecil-kecilnya meraih hasil yang sebesar-besarnya. Sebenarnya
hal yang demikian tidaklah salah, hanya saja pada praktiknya mereka terlalu
mengejar keuntungan tanpa memikirkan kualitas barang yang diproduksi serta
tidak memikirkan dampak bagi konsumen. Jika hal ini terus terjadi bangsa ini
tidak akan terlepas dari kondisi seperti ini dimana para produsen tidak berlaku
jujur dengan menjual ayam tiren misalnya yang tentunya akan merugikan konsumen
dan mendatangkan mudarat (kerugian) bagi yang mengonsumsinya.
Memang bukan sesuatu yang
mudah menerapkan ekonomi islam 100% dengan ciri khas yang demikian. Tapi,
setidaknya dengan adanya ilmu ekonomi islam di negeri ini membuat kita kembali
mengevaluasi diri apakah sistem ekonomi yang telah diterapkan sekarang ini
sudah benar? Apakah sistem ekonomi yang ada sekarang ini sudah cukup mampu
untuk memecahkan problematika ekonomi bangsa ini? Inilah tantangan besar yang
akan kita hadapi terutama untuk generasi mendatang dimana masih banyak
dibutuhkan tenaga dalam mengembangkan ekonomi islam ini sehingga kedepannya
diharapkan ekonomi islam tidak sekedar dijadikan suatu produk melainkan
menjadi the truly islamic banking which can help to solve economic problems
in this country.
Ekonomi syariah merupakan ilmu
pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami
oleh nilai-nilai Islam. Ekonomi syariah atau sistim ekonomi koperasi berbeda
dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State).
Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal
terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu,
ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan Sekaligus anjuran
yang memiliki dimensi ibadah.
Krisis ekonomi yang sering
terjadi ditengarai adalah ulah sistem ekonomi konvensional, yang mengedepankan
sistem bunga sebagai instrumen provitnya. Berbeda dengan apa yang ditawarkan
sistem ekonomi syariah, dengan instrumen provitnya, yaitu sistem bagi hasil.
Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun
komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada ditengah-tengah ketiga sistem
ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang lebih bersifat
individual, sosialis yang memberikan hampir semua tanggungjawab kepada warganya
serta komunis yang ekstrem, ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta
perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di transaksikan. Ekonomi dalam Islam
harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa
adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.
Dalam Islam tidak ada konflik antara materi dan jiwa, karena tidak ada
pemisahan antara ekonomi dan agama. Meskipun ekonomi Islam masih muda
dibandingkan dengan ekonomi konvensional, karakteristik, nilai dan esensi yang
dihargai oleh kaum Muslim dan non-Muslim. Over-melengkung nilai-nilai ekonomi
Islam terletak pada prinsip bahwa itu adalah strategi ekonomi yang dapat
mencapai persatuan dan harmoni antara materi dan kehidupan rohani umat.
Untuk memastikan benar kesejahteraan semua individu, terlepas dari, usia
jenis kelamin, ras, agama dan kekayaan, ekonomi Islam tidak berusaha untuk
menghapuskan milik pribadi, praktik yang dilakukan oleh komunisme, juga tidak
mencegah orang dari melayani diri mereka bunga. Ini mengakui peran kekuatan
pasar dalam alokasi sumber daya yang efisien. Ini berusaha untuk mempromosikan
persaudaraan, sosio-ekonomi keadilan dan kesejahteraan semua melalui peran
terintegrasi nilai-nilai moral, mekanisme pasar dan pemerintahan yang baik.
Perbedaan antara ekonomi konvensional dan Islam seperti tercantum di bawah.
1. Peran Nilai Moral
Sementara ekonomi konvensional secara umum menganggap perilaku, selera dan
preferensi individu yang diberikan, ekonomi Islam tidak melakukannya. Ini
menempatkan penekanan besar pada reformasi individual dan sosial melalui
peningkatan moral. Hal ini konon menjadi tujuan yang utusan-utusan Allah telah
datang ke dunia ini. Peningkatan moral bertujuan mengubah perilaku, selera dan
preferensi individu, dan dengan demikian, melengkapi mekanisme harga dalam
mempromosikan kesejahteraan umum. Bahkan sebelum masuk ke tempat pasar dan
sedang terkena filter harga, konsumen diharapkan untuk lulus klaim mereka pada
sumber daya melalui filter moral yang pertama, di mana konsumsi mencolok dan
klaim boros dan tidak perlu akan disaring keluar. Mekanisme harga kemudian
dapat mengambil alih dan mengurangi klaim pada sumber daya lebih jauh untuk
menyebabkan keseimbangan pasar. Kedua filter memungkinkan penggunaan sumber
daya yang optimal, yang diperlukan untuk memenuhi bahan serta kebutuhan rohani
semua manusia. Mereka juga mengurangi konsentrasi kekayaan di tangan beberapa,
dan meningkatkan penghematan yang diperlukan untuk mendorong investasi yang
lebih besar dan lapangan kerja. Gambar 1.1 menyoroti distribusi ekonomi dalam
sistem apapun. Apa yang membuat sistem ekonomi Islam berbeda adalah bahwa ada
dukungan yang lebih besar bagi sektor ekonomi-aktif, yang menjadi fokus utama
dari sektor pemerintah.
2. Pentingnya akhirat
Akhirat adalah sebuah konsep yang benar-benar diabaikan oleh ekonomi
konvensional, tetapi adalah salah satu yang sangat ditekankan oleh Islam dan
agama-agama besar lainnya. Karena kebaikan bawaan mereka, manusia tidak selalu
berusaha untuk melayani kepentingan diri mereka. Mereka altruistik, dan
bersedia berkorban untuk kesejahteraan orang lain. Perilaku ini dihargai di
akhirat. Sementara ekonomi konvensional juga berusaha alokasi optimal sumber
daya, fakta bahwa tidak dapat menawarkan hadiah untuk tindakan kebajikan
berarti bahwa sisi manusiawi ekonomi diabaikan.
3. Rasional Ekonomi Man
Meskipun ada hampir tidak ada yang bertentangan dengan kebutuhan
rasionalitas dalam perilaku manusia, terdapat perbedaan pendapat ketika
mendefinisikan rasionalitas (Sen, 1987). Namun, setelah rasionalitas
didefinisikan dalam hal individu secara keseluruhan serta kesejahteraan sosial,
maka perilaku rasional dapat membantu kita untuk mewujudkan tujuan tertentu.
Ekonomi konvensional, bagaimanapun, tidak mendefinisikan rasionalitas dengan
cara ini. Ini menyamakan rasionalitas dengan melayani kepentingan diri sendiri
melalui maksimalisasi kekayaan. Dorongan untuk kepentingan pribadi dianggap
sebagai "setara moral gaya gravitasi di alam" (Myers, 1983, p 4.).
Dalam kerangka ini, masyarakat dikonseptualisasikan sebagai kumpulan individu
semata bersatu melalui ikatan kepentingan diri sendiri.
Dikonseptualisasikan sebagai
kumpulan individu semata bersatu melalui ikatan kepentingan diri sendiri.
Namun, konsep 'manusia ekonomi rasional dalam sosial-Darwinis, dan rasa
utilitarian kepentingan diri sendiri tidak dapat menemukan pijakan di ekonomi
Islam. 'Rasionalitas' dalam ekonomi Islam tidak terbatas pada porsi seseorang
kepentingan pribadi di dunia ini saja, tetapi juga akan diperluas ke akhirat
melalui kepatuhan yang setia dengan nilai-nilai moral yang membantu mengekang
kepentingan pribadi sehingga untuk mempromosikan kepentingan sosial. Al-Mawardi
(w. 1058) dianggap perlu, seperti cendekiawan Muslim lainnya, untuk
mengendalikan selera individu dan preferensi melalui nilai-nilai moral. Ibn
Khaldun (d.1406) berpendapat bahwa orientasi moral yang akan membantu
menghilangkan persaingan dan saling iri hati, memperkuat solidaritas sosial,
dan menciptakan kecenderungan terhadap kebenaran.
4. Positivisme
Positivisme dalam arti ekonomi konvensional menjadi "sepenuhnya netral
antara tujuan" (Robbins) atau "independen dari setiap posisi etika
tertentu atau penilaian normatif" (Friedman) tidak dapat menemukan tempat
dalam pemikiran intelektual muslim. Karena semua sumber daya di pembuangan
manusia adalah kepercayaan dari Tuhan, dan manusia bertanggung jawab di
hadapan-Nya, tidak ada pilihan lain selain untuk menggunakannya sesuai dengan
ketentuan kepercayaan. Istilah-istilah yang didefinisikan oleh keyakinan dan
nilai-nilai moral. Manusia persaudaraan, salah satu tujuan utama Islam, akan
menjadi jargon berarti jika tidak diperkuat oleh keadilan dalam alokasi dan
distribusi sumber daya. Ini adalah sikap positif, diadopsi oleh ekonomi
konvensional, yang menjaga itu jauh dari karakteristik seperti kebajikan dan kesetaraan,
cita-cita menjadi dua sangat didorong dalam ekonomi Islam.
5. Pareto Optimum
Tanpa keadilan, akan sulit untuk mewujudkan bahkan pembangunan. Cendekiawan
Muslim telah menekankan hal ini sepanjang sejarah. Pembangunan Ekonomi juga
telah mulai menekankan ini perlu, lebih sehingga dalam beberapa dekade
terakhir. Abu Yusuf (w. 798) menyatakan bahwa, "Rendering keadilan bagi
mereka ketidakadilan dirugikan dan memberantas, meningkatkan penerimaan pajak,
mempercepat pengembangan negara, dan membawa berkah di samping untuk menghargai
di akhirat ". Ibnu Taimiyah (w. 1328) menekankan bahwa keadilan
"terhadap segala sesuatu dan semua orang sangat penting bagi semua, dan
ketidakadilan dilarang untuk segala sesuatu dan semua orang. Ketidakadilan benar-benar
tidak boleh terlepas dari apakah itu adalah seorang Muslim atau non-Muslim atau
bahkan orang yang tidak adil. "Keadilan dan kesejahteraan semua mungkin
sulit untuk menyadari tanpa pengorbanan pada bagian dari sumur-to- lakukan.
Konsep optimum Pareto tidak, oleh karena itu, cocok dengan paradigma ekonomi
Islam. Hal ini karena optimalitas Pareto tidak mengakui solusi apapun optimal,
jika membutuhkan pengorbanan pada bagian dari beberapa (kaya) untuk
meningkatkan kesejahteraan dari banyak (miskin). Posisi seperti berada dalam
konflik jelas dengan nilai-nilai moral Islam, raison d'etre yang
merupakan kesejahteraan semua. Bahkan, Islam membuatnya menjadi kewajiban agama
bagi umat Islam untuk berkorban untuk orang miskin dan yang membutuhkan -
dengan membayar zakat. Hal ini di samping pajak yang mereka bayarkan
kepada pemerintah. Disebutkan di atas poin tidak boleh membawa kita untuk
pelabuhan kesan bahwa kedua disiplin (ekonomi konvensional dan ekonomi Islam)
yang sama sekali berbeda, sebagai subyek dari kedua disiplin adalah sama yaitu,
alokasi dan distribusi sumber daya yang langka. Harus dicatat bahwa ekonom
konvensional juga tidak pernah bebas nilai. Mereka telah membuat pertimbangan
nilai sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Seperti yang ditunjukkan
sebelumnya, bahkan paradigma ekonomi konvensional berubah misalnya, peran
pemerintahan yang baik sekarang telah menjadi dikenal dengan baik, dan injeksi
dimensi moral telah ditekankan oleh sejumlah ekonom terkemuka. Di sisi lain,
ekonomi Islam telah banyak manfaat dari alat-alat analisis yang dikembangkan
oleh neoklasik, humanistik Keynesian, sosial, ekonomi kelembagaan serta
ilmu-ilmu sosial lainnya. Hubungan simbiosis akan, tidak diragukan lagi, terus
ke masa depan
B. Ciri khas Ekonomi Syariah
Tidak banyak yang dikemukakan
dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang mendasar saja. Karena
alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak sekali membahas
tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai produsen, konsumen
dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem ekonomi. Sebagaimana
diungkapkan dalam pembahasan diatas, ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Selain itu, ekonomi
syariah menekankan empat sifat, antara lain:
- Kesatuan (unity)
- Keseimbangan (equilibrium)
- Kebebasan (free will)
- Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (khalifah)
Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat individualistik, karena semua (kekayaan)
yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya
di bumi. Didalam menjalankan kegiatan ekonominya, Islam sangat mengharamkan
kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti "kelebihan". Dalam Al
Qur'an surat Al Baqarah ayat 275 disebutkan bahwa "Orang-orang yang
makan (mengambil) riba. Riba itu ada dua macam : nasiah dan fadhi. Riba
nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
Riba fadhi ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi
lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensy" 2)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ekonomi islam memiliki devinisi
yang berbeda, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia untuk
mencapai kemaslahatan bersama juga untuk mencapai falah dunia dan
akhirat. Maksudnya ialah ekonomi islam dalam kegiatan ekonominya bertujuan
untuk mencapai kemakmuran (maslahah) bersama dan tidak hanya itu,
ekonomi islam juga berpikir panjang bagaimana mencapai kejayaan (falah)
dunia dan akhirat. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ekonomi konvensional
yang tidak lain tujuan utamanya mencapai kesejahteraan semata.
Dan diantara aspek yang berpadu dalam perbedaan ekonomi islam dengan
konvensional antara lain yaitu:
1.
Peran nilai
moral
2.
Pentingnya
akhirat
3.
Rasional
ekonomi man
4.
Positivisme
5.
Pareto
optimum
Di dalam ciri-ciri Ekonomi syariah menekankan empat sifat, antara lain:
1. Kesatuan (unity)
2. Keseimbangan (equilibrium)
3. Kebebasan (free will)
4. Tanggungjawab (responsibility)
B.
SARAN
Penulis
sangat menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiyah ini masih banyak kekurangan maka
dari itu penulis mohon keritik dan sarannya yang bersifat membangun dari semua
pihak sangat saya harapkan.
Akhir kata
saya memohon kepada Allah SWT agar saya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang
benar yang di ridhoi olehnya. Semoga Karya Tulis Ilmiyah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Halaqohtdj.blogspot.com/2012/02/perbedaan-ekonomi-syariah-dan-ekonomi.
Html ?m=1/ 13 Mei 2015
Mayang-madu.blogspot.com/ 13 Mei 2015