1. Pengertian Statistik Dan Statistika
Beberapa
orang terkadang tidak mengatahui arti atau perbandingan antara Statistik dan
Statistika, bahkan mereka sering menganggap arti dari kedua istilah ini adalah
sama. Berikut adalah perbedaan pengertian dari Statistik dan Statistika.
Statistik
merupakan sebuah kumpulan data yang berhubungan dengan angka-angka yang disusun
dalam bentuk tabel ataupun diagram yang menggambarkan suatu permasalahan atau
persoalan.
Contoh tabel : Konsumsi rata-rata per
kapita telur itik Indonesia (butir)
|
Wilayah
|
Asin
|
Segar
|
|
Perkotaan
|
3,18
|
3,23
|
|
Pedesaan
|
1,30
|
5,27
|
|
Kota + Desa
|
1,98
|
5,54
|
Sedangkan Statistika merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara
pengumpulan data, pengolahan data, penganalisaan data, pembahasan data tersebut
dan kemudian penyajiannya.
Statistika
dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu statistika deskriptif dan
statistika inferensia. Statistika deskriptif adalah suatu metode yang berkaitan
dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data, sehingga memberikan informasi
yang berguna. Sedangkan statistika inferensia adalah suatu metode yang
berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada paramalan
atau penentuan kesimpulan tentang seluruh gugus data induknya.
2. Populasi Dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita
baik yang berhingga maupun tak berhingga jumlahnya. Dalam
mendefinisikan suatu populasi harus ada 3 unsur yang harus dipenuhi, yaitu :
1.) Apa
unit observasinya
2.) Ruang
lingkup
3.) Waktu
Populasi dapat dibedakan menjadi :
a. Populasi
infinite, yaitu populasi tidak terhingga jumlahnya.
b. Populasi
finite, yaitu populasi yang terbatas baik jumlah maupun tempat dan waktunya.
Sedangkan Sampel
adalah bagian atau jumlah dan
karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan
peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, missal karena
keterbatan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari
populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan
diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul representative.
Ada
4 parameter yang bisa dianggap menentukan representativeness sampel
(sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya), yaitu :
1.)
Variabilitas
populasi
2.)
Besar
sampel
3.)
Teknik
penentuan sampel
4.)
Kecermatan
memasukkan ciri-ciri populasi dan sampel.
Pengambilan sampel mempunyai beberapa
keuntungan diantaranya :
1.) Menghemat
biaya, karena objek atau data yang diselidiki jauh lebih kecil, sehinga ongkos
dan biaya penyelidikan jauh lebih sedikit.
2.) Menghemat
waktu dan tenaga,
3.) Untuk
penelitian yang sifatnya massal tidak mungkin dilakukan penelitian terhadap
keseluruhan anggota populasi, sebab akan rusak semua. Sehingga penelitian
sebaiknya dilakukan terhadap sampel saja.
3. Arti Data
Data adalah keterangan yang dapat
memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau masalah, data juga dapat
didefinisikan sebagai kumpulan fakta.
Selanjutnya
data yang berupa kategori disebut sebagai data kualitatif, dan data bilangan
disebut data kuantitatif. Cara membedakan data kualitatif dengan data
kuantitatif , data kualitatif (mutu) biasanya tidak memiliki satuan atau
tergantung pada penilai, sedangkan data kuantitatif (angka/bilangan) memiliki satuan misalnya mm,
cm, km, kg, m dsb.
Data yang baik harus memenuhi
persyaratan berikut :
1.) Data
harus objektif, artinya sesuai dengan kenyataan.
2.) Data
harus menggambarkan keseluruhan persoalan, dalam hal ini apabila data tersebut
diperoleh berdsarkan penelitian sampel, maka sampel tersebut harus dapat
mewakili.
3.) Data
yang digunakan sebagai perkiraan parameter harus mempunyai gagal baku (standard
error) yang kecil.
4.) Data
harus tepat waktu, misalnya data yang terlalu ketinggalan jauh, sebab
kejadian-kejadian itu cepat selesai mengalami perubahan berhubung dengan
perkembangan waktu dan teknologi.
5.) Data
harus berhubungan dengan persoalan yang akan dipecahkan, dengan kata lain data
harus sesuai dengan masalah yang dihadapi.
4. Jenis skala pengukuran Data
Pengukuran
adalah suatu usaha memasangkan angka-angka terhadap objek-objek atau
peristiwa-peristiwa menurut aturan tertentu. Pengukuran data terdiri dari
kategori (Nominal dan Ordinal) dan Numerik (Interval dan Rasio).
Jenis-jenis
pengukuran data diberikan, antara lain :
a.) Skala
Nominal
Merupakan skala pengukuran yang
memiliki dasar penggolongan hanya kategori yang saling bebas dan terbatas.
Angka digunakan untuk membedakan satu objek dengan objek lainnya . pada skala
pengukura ini, angka yang di tunjuk untuk suatu kategori hanyalah sekedar label
/ kode, skala Nominal memiliki ciri-ciri diantaranya :
a) Kategori data bersifat mutually
exclusive (saling memisah).
b) Kategori
data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang). Hasil perhitungan dan
tidak ditemui bilangan pecahan. Angka yang tertera hanya lebel semata. Tidak
mempunyai ukuran baru. Dan tidak mempunyai nol mutlak.contohnya :
-
Variabel jenis kelamin, diberi kode : 1
untuk pria dan 0 untuk wanita
-
Variabel agama yang dipeluk, diberi kode
: 1 untuk islam, 2 untuk katolik, 3 untukprotestan, 4 untuk hindu, 5 untuk
budha, 6 untuk konghucu.
b.) Skala
Ordinal
Merupakan
skala pengukuran yang memiliki angka selain digunakan untuk membedakan, juga
digunakan untuk menyatakan urutan tertentu / rangking. Adapun ciri-ciri
dari skala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data
memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan skala berdasarkan jumlah
karakteristik khusus yang dimilikinya.
Contoh :
- variabel grade kursus : A, B, C, D, E
- variabel skala penilaian :1 untuk
sempurna , 2 untuk baik , 3 untuk buruk
- variabel skala sikap responden : 1
untuk sangat tidak setuju, 2 untuk tidak setuju, 3 untuk cukup setuju, 4 untuk
setuju, 5 untuk sanagat setuju
c.) Skala
interval
Merupakan
skala pengukuran yang memiliki angka selain digunakan untuk membedakan dan
menyatakan urutan, juga memberi informasi tentang interval (jarak) antara satu
objek dengan objek lain. Ciri-ciri dari skala ini antara lain :
a) Kategori
data bersifat saling memisah.
b) Kategori
data memiliki aturan yang logis.
c) Kategori
data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang
dimilikinya.
d) Perbedaan
karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang
dikenakan pada kategori.
e) Angka nol
hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut).
Contoh :
-
Indeks prestasi (IQ) , suhu, dan Tahun
d.) Skala Rasio
Merupakan
skala pengukuran yang memiliki angka selain informasi tentang urutan dan
interval (jarak) antar objek, ada tambahan informasi tentang jarak atau
perbedaan antara suatu objek dengan nol absolut (mutlak), misalnya ukuran
tinggi 4 cm merupakan dua kali ukuran tinggi 2 cm.
Contoh : - pengukuran tinggi, berat,
jarak, harga, dan umur.
5. Tipe Skala Pengukuran Data
Dalam penelitian sosial dan ekonomi
terutama penelitian yang melibatkan variabel laten / psikoogis, seperti
kepuasan, kinerja, persetujuan, dll; skala pengukuran yang digunakan
dikembangkan dalam bentuk skala penelitian sikap, antara lain :
a.) Skala
Likert
Merupakan
skala pengukuran yang memilik teknik dasar dimensi sikap untuk menanyakan
seberapa kuat responden setuju atau tidak setuju dalam lima poin pilihan, yaitu
1 sampai 5, atau -2 sampai +2, skala ini diperkenalkn oleh psychologist Rensis Likert ditahun 1932, skala ini memiliki
kemiripan dngan skala ordinal, namun beberapa peneliti mengasumsikan skala ini
sebagai skala interval atau skala kontinu. Untuk skala Likert ini ada beberapa
peneliti yang tetap menganggapmya sebagai skala ordinal. Skala ini mudah diterapkan
dalam pembuatan kuesioner pada penelitian sosial dan ekonomi.
Contoh :
-
Variabel skala sikap, diberi kode : 1
untuk sangat tidak setuju, 2 untuk tidak setuju, 3 untuk netral, 4 untuk
setuju, 5 untuk sangat setuju.
b.) Skala
Semantik Diferensial
Disebut
juga sebagai skala sikap bipolar, skala ini memiliki perbedaan dengan skala
Likert dengan menempatkan opposite
statements dari dimensi di awal dan akhir poin pilihan, skala ini memiliki
tujuh poin pilihan dengan pernyataan tidak setuju di awal dan setuju di akhir
poin, atau sebaliknya.
Contoh :
-
Variabel skala sikap diberi kode : 1
untuk tidak setuju, 2 sampai 6 tidak memiliki pernyataan (kosong), 7 untuk
setuju
-
Berkaitan dengan sifat : 1 untuk boring,
2 sampai 6 tidak memiliki pernyataan(kosong), 7 untuk interesting
c.) Skala
Stapel
Merupakan skala pengukuran yang memiliki dimensi yang ditempatkan pada
pusat dari suatu skala yang memiliki interval dari -5 sampai +5, skala ini
menyerupai skala interval dengan interval -5 sampai +5, serta bernilai bulat.
Contoh :
-
-5 untuk sangat tidak
setuju +5 untuk sangat
setuju.
Daerah kosong (---) di isi dengan
bilangan bulat antara -5 sampai +5.
d.) Skala
Thurstone
Skala Thurstone merupakan skala sikap
yang pertama dikembangkan dalam pengukuran sikap. Skala ini mempunyai tiga
teknik penskalaan sikap, yaitu :
· metode
perbandingan pasangan
· metode
interval pemunculan sama, dan
· metode
interval berurutan.
Ketiga
metode ini menggunakan bahan pertimbangan jalur dugaan yang menganggap
kepositifan relatif pernyataan sikap terhadap suatu obyek.
e.) Skala
Guttman
Skala
pengukuran dengan tipe ini, akan di dapat jawaban yang tegas, yaitu ya
atau tidak, benar atau salah, pernah atau tidak, positif atau
negative dan lain - lain. Data yang di peroleh dapat berupa data interval
atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala likert terdapat
3,4,5,6,7 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”,
maka pada dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju atau tidak
setuju”. Penelitian menggunakan sakal Guttman di lakukan bila ingin mendapatkan
jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang di tanyakan.
Contoh :
- Apakah
anda setuju dengan kebijakan perusahaan menaikkan harga jual?
a.
Setuju
b. Tidak Setuju
f.) Skala rating
Dalam skala rating data yang diperoleh
adalah data kuantitatif kemudian peneliti baru mentranformasikan data
kuantitatif tersebut menjadi data kualitatif.
Contoh:
-
Kenyaman ruang tunggu RSU Kartini:
5
4 3 2 1
-
Kebersihan ruang parkir RSU Kartini :
5
4 3 2 1
6. Sumber Dan Insrtumen Pengumpulan Data
Data (dataset) merupakan suatu istilah umum
untuk pengamatan dan pengukuran yang dikumpulkan selama penyelidikan atau
penelitian ilmiah. Menurut sumber pengambilan atau pengumpulan data dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu data Internal dan
data Eksternal.
a.) Data internal
Data internal adalah data yang diperoleh dari
perusahaan atau instansi yang bersangkutan. Pada dasarnya data internal
meliputi data input dan output suatu perusahaan atau organisasi, sebab suatu
organisasi yang dibentuk pasti bertujuan untuk menghasilkan produk barang atau
jasa (output).
b.) Data Eksternal
Data
eksternal diperoleh dari luar instansi atau perusahaan tersebut. Data ekstern
dibedakan menjadi data primer dan data sekunder.
1.Data Primer
Adalah data yang dapat diperoleh atau dikumpulkan lannsung dilapangan
oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya.
2.Data Sekunder
Adalah
data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari
sumber-sumber yang telah ada.
Instrurnen pengumpulan data adalah alat
bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan
agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.
“Instrumen penelitian” yang diartikan
sebagai “alat bantu” merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda,
misalnya angket (questionnaire), daftar cocok (checklist) atau pedoman wawancara (interview guide atau interview
schedule), lembar pengamatan atau panduan pengamatan (observation sheet atau
observation schedule) soal tes (yang kadang-kadang hanya disebut dengan
“ter” saja, inventors (invertory), skala (scale), dan lain sebagainya.
Melihat daftar jenis-jenis metode dan
daftar jenis-jenis instrumen tersebut diatas, terdapat istilah-istilah yang
sama, yaitu angket dan tes. Dengan demikian ada metode angket dan instrumen
angket. Demikian juga ada metode tes dan instrumen tes. Memang instrumen angket
digunakan sebagai alat bantu dalam penggunaan metode angket; demikian juga
halnya dengan tes. Namun ada kalanya peneliti memilih metode angket tetapi
menggunakan daftar cocok sebagai instrumen.
Menurut pengertiannya, angket adalah
kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang (yang
dalam hal ini disebut responden), dan cara menjawab juga dilakukan dengan
tertulis. Daftar cocok, menunjuk pada namanya, merupakan kumpulan dari
pernyataan atau pertanyaan yang pengisiannya oleh responder dilakukan dengan
memberikan tanda centang atau tanda cocok (ü) pada tempat-tempat yang sudah
disediakan. Jadi “daftar cocok” sebenarnya merupakan semacam angket juga tetapi
cara pengisiannya dengan memberikan tanda cocok itulah yang menyebabkan ia
disebut demikian.
Instrumen merupakan alat bantu bagi
peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data. Dengan demikian terdapat
kaitan antara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan satu jenis metode
pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis
instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam
metode.
Berikut
beberapa instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data :
a.) Angket
Angket, seperti telah dikemukakan
pengertiannya di atas, merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang
lain dengan maksud agar orang yang yang diberi tersebut bersedia memberikan
respons sesuai dengan permintaan pengguna. Orang yang diharapkan memberikan
respons ini disebut responden. Menurut cara memberikan respons, angket
dibedakan menjadi dua jenis yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.
1. Angket terbuka
adalah angket yang disajikan dalam
bentuk sedemikan rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan
kehendak dan keadaannya.
Angket
terbuka digunakan apabiia peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga
kemungkinan altematif jawaban yang ada pada responden.
Menggali
informasi mengenai identitas responden biasanya dilakukan dengan membuat
pertanyaan terbuka. Keuntungan pertanyaan terbuka terdapat pada dua belah pihak
yakni pada responden dan pada peneliti:
(1).
Keuntungan pada responden: mereka dapat mengisi sesuai dengan keinginan atau
keadaannya.
(2).
Keuntungan pada peneliti: mereka akan memperoleh data yang bervariasi, bukan
hanya yang sudah disajikan karena sudah diasumsikan demikian.
2. Angket tertutup
adalah angket yang disajikan dalam
bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda centang (x)
pada kolom atau tempat yang sesuai.
Contoh
pertanyaan angket tertutup:
1)
pernahkan Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan
bidang studi yang sekarang Anda ajarkan?
Jawab:
……………………………. ….a. Pernah ….b. Tidak
1.
Jika
pernah, penataran tentang apa saja? (dapat memberikan centang lebih dari satu)
….a.
materi bidang studi
….b.
metode mengajar/strategi belajar-mengajar
….c.
memilih dan penggunaan media/alat pelajaran
….d.
menyusun alat evaluasi
3. Angket campuran
yaitu gabungan antara angket terbuka
dan tertutup.
Contoh
pertanyaan angket campuran:
1)
Pernahkah Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan
bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Jika pernah berapa kali?
….a.
Tidak pernah (langsung ke nomor 3)
….b.
Pernah, yaitu …kali (teruskan nomor 2)
2)
Penataran tentang apa saja yang Anda ikuti dan berapa hari lamanya?
1.
Materi
pelajaran
…..hari
2.
Metode
mengajar
…..hari
3.
Pemilihan
dan penggunaan
media …..hari
4.
Penyusunan
alat evaluasi
…..hari
b.) Daftar Cocok (Checklist)
Di dalam penjelasan mengenai angket
dikemukakan juga bahwa dalam mengisi angket tertutup responden diberi kemudahan
dalam memberikan jawabannya. Di lain tempat, yakni di dalam penjelasan umum
mengenai instrumen disebutkan bahwa daftar cocok adalah angket yang dalam
pengisiannya responden tinggal memberikan tanda cek (ü). Dengan keterangan
tersebut tampaknya angket tertutup dapat dikategorikan sebagai checklist.
Namur demikian angket bukan khusus merupakan daftar. Daftar cocok mempunyai
pengertian tersendiri. Daftar cocok bukanlah angket. Daftar cocok mempunyai
bentuk yang lebih sederhana karena dengan daftar cocok peneliti bermaksud
meringkas penyajian pertanyaan Berta mempermudali responden dalam memberikan
respondennya. Daftar cocok memuat beberapa pertanyaan yang bentuk dan
jawabannya seragam. Agar responden tidak diharapkan pada beberapa pertanyaan
mengenai berbagai hal tetapi dalam bentuk membaca, maka disusunlah daftar cocok
tersebut sebagai pengganti.
c.) Skala(scale)
Skala menunjuk pada sebuah instrumen
pengumpul data yang bentuknya seperti daftar cocok tetapi alternatif yang
disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang. Di dalam Encyclophedia of
Educational Evaluationdisebutkan: The term scale in the
measurement sense, comes from the Latin word scale, meaning “ladder” or “flight
of stairs”. Hence, anything with gradation can be thought of as “scaled”.
Skala banyak digunakan untuk mengukur
aspek-aspek kepribadian atauaspek kejiwaan yang lain. Selain skala, penelitian
yang berhubungan dengdn aspek-aspek kejiwaan memerlukan jenis
instrumen-instrumen pengumpul data lain, baik yang berupa tes, inventori untuk
hal-hal umum (general inventories, misalnya Minnesota Multiphasic
Personality Inventory – MMPI, dan inventori untuk aspek-aspek khusus (Specific
Inventories seperti: Rokeach Dogmatism Scala, Fundamental Interpersonal
Relations Orientation – Behavior – FIRO – B, Study of Values, dan
lain-lain). Untuk penelitian pendidikan, walaupun dapat dikatakan tidak terlalu
sering menggunakan instrumen-instrumen seperti disebutkan, tetapi bagi
penelitinya perlu juga mengenal ragam alat pengumpul data aspek-aspek psikologi
tersebut.
Problematika pendidikan seperti
kerancuan dalam mengikuti pelajaran, lambatnya siswa menyelesaikan studi serta
masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar, menjadi topik yang
tetap aktual di kalangan pendidikan sekolah formal. Selain penelitian yang
tidak terlalu menyangkut aspek-aspek kejiwaan secara langsung, masih banyak
problem pendidikan yang terkait dengan aspek kejiwaan tersebut, misalnya
rendahnya prestasi disebabkan rendahnya harga diri siswa. Lemahnya semangat belajar
dikarenakan adanya lesu kreativitas dan seterusnya. Itulah sebabnya dalambagian
ini akan disajikan pula beberapa contoh instrumen untuk mengungkap aspek-aspek
kejiwaan agar para peneliti pendidikan dapat terperinci menggali penyebab
timbulnya masalah pendidikan melalui aspek kejiwaan siswa dan guru yang
terlibat di dalam kegiatan pendidikan tersebut. Namun demikian untuk dapat
menggunakan alat-alat pengungkap gejala kejiwaan seperti tes, inventori khusus
dan lain-lain, diperlukan suatu kemampuan khusus. Pada umumnya mahasiswa
lulusan faktultas Psikologi dapat diminta untuk membantu melaksanakan
pengumpulan data yang diungkap melalui instrumen-instrumen tersebut.
Skala seperti dicontohkan di atas
merupakan skala bentuk gradasi dari satu jenis kualitas. Dalam contoh di atas,
alternatifnya ada empat sehingga terdapat empat tingkatan kualitas kes eringan.
Skala yang berasal dari ide yang dikemukakan oleh Likert dan dikenal dengan
skala Likert ini biasanya menggunakan lima tingkatan. Tentu saja peneneliti
dapat membuat variabel dengan menyingkat menjadi tiga tingkatan:
Selalu
– Kadang-kadang – Tidak Pernah
Baik
– Cukup
– Jelek
Besar
– Sedang
– Kecil
Jauh
– Cukup
– Dekat
dan
dapat pula memperbesar rentangan menjadi lima tingkatan:
Selalu
– Sering Sekali –
Sering – Jarang – Jarang Sekali
Selalu
– sering sekali –
Sering – Jarang – Tidak Pernah
Baik
Sekali –
Baik
– Cukup –
Jelek – Jelek Sekali
Besar
Sekali –
Besar
– Cukup –
Kecil – Kecil Sekali
Misalnya:
|
Sangat setuju
|
Setuju
|
Abstain
|
Tidak Setuju
|
Sangat Tidak Setuju
|
|
(SS)
|
(S)
|
(A)
|
(TS)
|
(STS)
|
Pemilihan alternatif diserahkan pada
keinginan dan kepentingan peneliti yang menciptaka instrumen tersebut. Ada
Jenis lain yang telah dikembangkan oleh Inkels, bukan menyajikan alternative
jenjang kualitas untuk sesuatu predikat, tetapi jenjang dari kualitas mini
suatu perbuatan. Bentuk skala model. indeks ini menyerupai tes objektif bentuk
pilihan ganda, tetapi alternatifnya menunjuk pada gradasi.
Langkah-Langkah
Dalam Menyusun Instrumen
Secara umum penyusunan instrumen
pengumpul data dilakukan dengan penahapan sebagai berikut:
1.
Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam rumusan judul penelitian atau yang tertera
di dalam problematika penelitian.
2.
Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.
3.
Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.
4.
Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.
5.
Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
6.
Melengkapi instrumen dengan (pedoman atau instruksi) dan kata pengantar.
7. Macam-macam Penyajian
Data
Ada dua cara penyajian data yang
sering dilakukan, yaitu :
a) daftar atau tabel,
b) grafik atau diagram.
1. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Misalkan, hasil ulangan Bahasa
Indonesia 37 siswa kelas XI SMA 3 disajikan dalam tabel di bawah. Penyajian
data pada Tabel 1.1 dinamakan penyajian data sederhana. Dari tabel 1.1, Anda
dapat menentukan banyak siswa yang mendapat nilai 9, yaitu sebanyak 7 orang.
Berapa orang siswa yang mendapat nilai 5? Nilai berapakah yang paling banyak
diperoleh siswa?.
Jika data hasil ulangan bahasa Indonesia
itu disajikan dengan cara mengelompokkan data nilai siswa, diperoleh tabel
frekuensi berkelompok seperti pada Tabel 2.. Tabel 2. dinamakan Tabel
Distribusi Frekuensi.
Tabel 1. Penyajian data sederhana
|
Nilai
|
Frekuensi
|
|
2
|
7
|
|
4
|
3
|
|
5
|
5
|
|
6
|
4
|
|
7
|
10
|
|
9
|
7
|
Tabel 2. Tabel Distribusi Frekuensi
|
Interval Kelas
|
Turus
|
Frekuensi
|
|
1–2
|
EB
|
7
|
|
3–4
|
C
|
3
|
|
5–6
|
EC
|
8
|
|
7–8
|
EE
|
10
|
|
9–10
|
EC
|
8
|
|
Jumlah
|
37
|
2. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
Kerapkali data yang disajikan dalam
bentuk tabel sulit untuk dipahami. Lain halnya jika data tersebut disajikan
dalam bentuk diagram maka Anda akan dapat lebih cepat memahami data itu. Diagram
adalah gambar yang menyajikan data secara visual yang biasanya berasal dari
tabel yang telah dibuat. Meskipun demikian, diagram masih memiliki kelemahan,
yaitu pada umumnya diagram tidak dapat memberikan gambaran yang lebih detail.
a. Diagram Batang
Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data
cacahan). Diagram batang adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk
batang yang dicatat dalam interval tertentu pada bidang cartesius.
Ada dua jenis diagram batang, yaitu
1. diagram batang vertikal
2. diagram batang horizontal.
b. Diagram Garis
Pernahkah Anda melihat grafik nilai
tukar dolar terhadap rupiah atau pergerakan saham di TV? Grafik yang seperti
itu disebut diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menggambarkan
data tentang m keadaan yang berkesinambungan (sekumpulan data kontinu).
Misalnya, jumlah penduduk setiap tahun, perkembangan berat badan bayi setiap
bulan, dan suhu badan pasien setiap jam.
Seperti halnya diagram batang, diagram
garis pun memerlukan sistem sumbu datar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal)
yang saling berpotongan tegak lurus. Sumbu mendatar biasanya menyatakan jenis
data, misalnya waktu dan berat. Adapun sumbu tegaknya menyatakan frekuensi data.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat diagram garis adalah sebagai
berikut.
1.
Buatlah suatu koordinat (berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan
data pengamatan.
2.Gambarlah
titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
3.Secara
berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titiktitik koordinat tersebut dengan
garis lurus.
c. Diagram Lingkaran
Untuk mengetahui perbandingan suatu
data terhadap keseluruhan, suatu data lebih tepat disajikan dalam bentuk
diagram lingkaran. Diagram lingkaran adalah bentuk penyajian data statistika
dalam bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring lingkaran.
Langkah-langkah untuk membuat
diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
1.Buatlah sebuah lingkaran pada
kertas.
2.Buatlah lingkaran tersebut menjadi
beberapa juring lingkaran untuk
menggmbarkan kategori yang datanya telah diubah kedalam kertas.
8. Hipotesis Penelitian
a.) Definisi Hipotesis
Menurut Wikipedia Hipotesis atau
hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga
karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Menurut Sutrisno Hadi Hipotesis
adalah tentang pemecahan masalah. Secara umum hipotesa atau hipotesis merupakan
dugaan/anggapan yang diungkap berdasarkan teori-teori
yang dipelajari untuk menyelesaikan suatu masalah. Dugaan/anggapan awal sering
disebut hipotesis nol atau hipotesis awal. Sedangkan dugaan/anggapan yang
diperlukan untuk menyanggah dugaan awal disebut hipotesis alternatif. Kebenaran
dari suatu hipotesis masih perlu diuji melalui beberapa pengujian. Apakah
faktor-faktor yang disebutkan dalam penelitian mampu untuk membuktikan
kebenaran dari suatu hipotesis.
Namun secara bahasa, hipotesis
berasal dari bahasa Yunani dimana kata “hypo” yang artinya di bawah, dan
“thesis” yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan. Dari keterangan
tersebut dapat disimpulkan mengenai definisi hipotesis secara bahasa adalah
suatu pernyataan ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang sesuai
dengan kaidah-kaidah penelitian dimana kebenarannya masih belum terbukti atau
dikatakan masih perlu diuji kebenarannya. Pengertian hipotesis menurut beberapa
ahli yaitu Sutrisno Hadi adalah tentang pemecahan masalah dimana seringkali
peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan.
Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui
penelitian yang dilakukan.
b.) Kegunaan Hipotesis
Dalam menyusun suatu hipotesis seorang
peneliti akan menentukan arah dan tujuan dari penelitian yang dilakukan, namun
perlu dibahas juga mengenai kegunaan hipotesis itu sendiri. Hipotesis merupakan
elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif.
Terdapat beberapa alasan utama yang mendukung pandangan ini :
a) Hipotesis memberikan suatu
pernyataan hubungan antarvariabel yang diteliti dimana langsung dapat diuji
dalam penelitian
b) Hipotesis memberikan arah dan tujuan
dalam penelitian
c) Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori.
Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan
permasalahan yang akan diteliti.
d) Untuk mengetahui apakah memang secara signifikan terdapat
perbedaan atau pengaruh antara variabel-variabel yang diteliti
e) Hipotesis
memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penelitian. Akan sangat
memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan
menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut.
f) Hipotesis
merupakan tujuan khusus yang dapat menguji suatu teori. Dengan demikian
hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji
pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para
peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah
fakta yang ada hubungannnya dengan pertanyaan tertentu.
g) Hipotesis
memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan
perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. Untuk dapat sampai pada pengetahuan
yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah
lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari
generalisasi dan antar hubungan yang ada diantara fakta-fakta tersebut. Antar
hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk
memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan
data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan
memberikan arah dan mengemukakan penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat
diuji dan divalidasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka
hipotesis dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.
c.) Ciri-ciri hipotesis yang baik
Suatu hipotesis dapat diuji apabila
hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan
mengaburkan atau membiaskan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi
syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih
abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar
diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis
yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
· *
Dinyatakan dalam Kalimat yang Tegas
* Dapat diuji secara ilmiah.
* Dasar dalam merumuskan hipotesis kuat.
* Dapat diuji secara ilmiah.
* Dasar dalam merumuskan hipotesis kuat.
· Hipotesis
harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu
hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.
d.)Macam-macam Hipotesis
Menurut bentuknya, hipotesis dibagi
menjadi tiga, yaitu:
1.) Hipotesis
penelitian / hipotesis kerja
Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis
penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang
dikaji. Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian
akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan
data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
2.) Hipotesis
operasional
Hipotesis operasional merupakan
hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan hipotesis tidak
semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan
obyektifitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar
setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan
hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis
disebut Hipotesis nol (H0).
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
3.) Hipotesis
statistik
Hipotesis statistik merupakan jenis
Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik.
Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0
Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0
e.) Macam-macam pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis adalah metode
pengambilan keputusan yang didasarkan atas analisa data, baik dari percobaan
yang terkontrol maupun dari observasi. Dalam statistika sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian
tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai
dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya.
Uji hipotesis kadang disebut juga "konfirmasi analisa data".
Keputusan dari uji hipotesis hampir selalu dibuat berdasarkan pengujian hipotesis nol. Ini adalah pengujian untuk
menjawab pertanyaan yang mengasumsikan hipotesis nol adalah benar.
Berikut ini adalah macam-macam
pengujian hipotesis
a.
Berdasarkan Jenis Parameternya
· Pengujian hipotesis tentang
rata-rata (Uji 2 sampel berpasangan)
· Pengujian hipotesis tentang proporsi
(
· Pengujian hipotesis tentang varians
(ANOVA)
b.
Berdasarkan Jumlah Sampelnya
· Pengujian sampel besar (n > 30)
· Pengujian sampel kecil (n ≤ 30)
c.
Berdasarkan Jenis Distribusinya
· Pengujian hipotesis dengan
distribusi Z
· Pengujian hipotesis dengan
distribusi t (t-student)
· Pengujian hipotesis dengan
distribusi χ2 (chi-square)
· Pengujian hipotesis dengan distrbusi
F (F-ratio)
d.
Berdasarkan Arah atau Bentuk Formulasi Hipotesisnya
·
Pengujian hipótesis dua pihak (two
tail test)
·
Pengujian hipotesis pihak kiri atau
sisi kiri
·
Pengujian hipotesis pihak kanan atau sisi kanan
Dalam Bahasa Inggris Sering Disebut Cock Fight Dimana permainan ini mengadu antara dua ekor ayam jantan dalam sebuah arena pertandingan adu ayam ini memiliki sebutan didalam arena yaitu Sabung Ayam, permainan ini biasanya diikuti oleh perjudian yang berlangsung tak jauh dari arena sabung Ayam Bangkok
BalasHapus