Jumat, 08 Mei 2015

PENGERTIAN STATISTIK DAN STATISTIKA



1.     Pengertian  Statistik  Dan  Statistika
         Beberapa orang terkadang tidak mengatahui arti atau perbandingan antara Statistik dan Statistika, bahkan mereka sering menganggap arti dari kedua istilah ini adalah sama. Berikut adalah perbedaan pengertian dari Statistik dan Statistika.
         Statistik merupakan sebuah kumpulan data yang berhubungan dengan angka-angka yang disusun dalam bentuk tabel ataupun diagram yang menggambarkan suatu permasalahan atau persoalan.
          Contoh tabel : Konsumsi rata-rata per kapita telur itik Indonesia (butir)
             Wilayah
            Asin
           Segar
Perkotaan
            3,18
            3,23
Pedesaan
            1,30
            5,27
Kota + Desa
            1,98
            5,54
          
            Sedangkan Statistika merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan data, penganalisaan data, pembahasan data tersebut dan kemudian penyajiannya.
        Statistika dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensia. Statistika deskriptif adalah suatu metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data, sehingga memberikan informasi yang berguna. Sedangkan statistika inferensia adalah suatu metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada paramalan atau penentuan kesimpulan tentang seluruh gugus data induknya.


2.     Populasi  Dan Sampel
          Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita baik yang  berhingga maupun tak berhingga jumlahnya. Dalam mendefinisikan suatu populasi harus ada 3 unsur yang harus dipenuhi, yaitu :
1.)    Apa unit observasinya
2.)    Ruang lingkup
3.)    Waktu
    Populasi dapat dibedakan menjadi :
a.       Populasi infinite, yaitu populasi tidak terhingga jumlahnya.
b.      Populasi finite, yaitu populasi yang terbatas baik jumlah maupun tempat dan waktunya.
          Sedangkan Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, missal karena keterbatan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative.              
        Ada  4 parameter yang bisa dianggap menentukan representativeness sampel (sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya), yaitu :
1.)    Variabilitas populasi
2.)    Besar sampel
3.)    Teknik penentuan sampel
4.)    Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi dan sampel.
        
        Pengambilan sampel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya :
1.)    Menghemat biaya, karena objek atau data yang diselidiki jauh lebih kecil, sehinga ongkos dan biaya penyelidikan jauh lebih sedikit.
2.)    Menghemat waktu dan tenaga,
3.)    Untuk penelitian yang sifatnya massal tidak mungkin dilakukan penelitian terhadap keseluruhan anggota populasi, sebab akan rusak semua. Sehingga penelitian sebaiknya dilakukan terhadap sampel saja.
3.     Arti Data
         Data adalah keterangan yang dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau masalah, data juga dapat didefinisikan sebagai kumpulan fakta.
Selanjutnya data yang berupa kategori disebut sebagai data kualitatif, dan data bilangan disebut data kuantitatif. Cara membedakan data kualitatif dengan data kuantitatif , data kualitatif (mutu) biasanya tidak memiliki satuan atau tergantung pada penilai, sedangkan data kuantitatif  (angka/bilangan) memiliki satuan misalnya mm, cm, km, kg, m dsb.
          Data yang baik harus memenuhi persyaratan berikut :
1.)    Data harus objektif, artinya sesuai dengan kenyataan.
2.)    Data harus menggambarkan keseluruhan persoalan, dalam hal ini apabila data tersebut diperoleh berdsarkan penelitian sampel, maka sampel tersebut harus dapat mewakili.
3.)    Data yang digunakan sebagai perkiraan parameter harus mempunyai gagal baku (standard error) yang kecil.
4.)    Data harus tepat waktu, misalnya data yang terlalu ketinggalan jauh, sebab kejadian-kejadian itu cepat selesai mengalami perubahan berhubung dengan perkembangan waktu dan teknologi.
5.)    Data harus berhubungan dengan persoalan yang akan dipecahkan, dengan kata lain data harus sesuai dengan masalah yang dihadapi.

4.     Jenis skala pengukuran Data
          Pengukuran adalah suatu usaha memasangkan angka-angka terhadap objek-objek atau peristiwa-peristiwa menurut aturan tertentu. Pengukuran data terdiri dari kategori (Nominal dan Ordinal) dan Numerik (Interval dan Rasio).
Jenis-jenis pengukuran data diberikan, antara lain : 
a.)  Skala Nominal
          Merupakan skala pengukuran yang memiliki dasar penggolongan hanya kategori yang saling bebas dan terbatas. Angka digunakan untuk membedakan satu objek dengan objek lainnya . pada skala pengukura ini, angka yang di tunjuk untuk suatu kategori hanyalah sekedar label / kode, skala Nominal memiliki ciri-ciri diantaranya :
 a)    Kategori data bersifat mutually exclusive (saling memisah).
b)    Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang). Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan. Angka yang tertera hanya lebel semata. Tidak mempunyai ukuran baru. Dan tidak mempunyai nol mutlak.contohnya :
-          Variabel jenis kelamin, diberi kode : 1 untuk pria  dan 0 untuk wanita
-          Variabel agama yang dipeluk, diberi kode : 1 untuk islam, 2 untuk katolik, 3 untukprotestan, 4 untuk hindu, 5 untuk budha, 6 untuk konghucu.
b.)  Skala Ordinal
       Merupakan skala pengukuran yang memiliki angka selain digunakan untuk membedakan, juga digunakan untuk menyatakan urutan tertentu / rangking. Adapun ciri-ciri dari skala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan skala berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.
Contoh :
- variabel grade kursus : A, B, C, D, E
- variabel skala penilaian :1 untuk sempurna , 2 untuk baik , 3 untuk buruk
- variabel skala sikap responden : 1 untuk sangat tidak setuju, 2 untuk tidak setuju, 3 untuk cukup setuju, 4 untuk setuju, 5 untuk sanagat setuju
c.)   Skala interval
         Merupakan skala pengukuran yang memiliki angka selain digunakan untuk membedakan dan menyatakan urutan, juga memberi informasi tentang interval (jarak) antara satu objek dengan objek lain. Ciri-ciri dari skala ini antara lain :
a)    Kategori data bersifat saling memisah.
b)    Kategori data memiliki aturan yang logis.
c)    Kategori data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang dimilikinya.
d)    Perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori.
e)    Angka nol hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut).
Contoh :
-          Indeks prestasi (IQ) , suhu, dan Tahun
d.)  Skala  Rasio
          Merupakan skala pengukuran yang memiliki angka selain informasi tentang urutan dan interval (jarak) antar objek, ada tambahan informasi tentang jarak atau perbedaan antara suatu objek dengan nol absolut (mutlak), misalnya ukuran tinggi 4 cm merupakan dua kali ukuran tinggi 2 cm.
Contoh : - pengukuran tinggi, berat, jarak, harga, dan umur.

5.     Tipe Skala Pengukuran Data
           Dalam penelitian sosial dan ekonomi terutama penelitian yang melibatkan variabel laten / psikoogis, seperti kepuasan, kinerja, persetujuan, dll; skala pengukuran yang digunakan dikembangkan dalam bentuk skala penelitian sikap, antara lain :
a.)  Skala Likert
     Merupakan skala pengukuran yang memilik teknik dasar dimensi sikap untuk menanyakan seberapa kuat responden setuju atau tidak setuju dalam lima poin pilihan, yaitu 1 sampai 5, atau -2 sampai +2, skala ini diperkenalkn oleh psychologist Rensis Likert ditahun 1932, skala ini memiliki kemiripan dngan skala ordinal, namun beberapa peneliti mengasumsikan skala ini sebagai skala interval atau skala kontinu. Untuk skala Likert ini ada beberapa peneliti yang tetap menganggapmya sebagai skala ordinal. Skala ini mudah diterapkan dalam pembuatan kuesioner pada penelitian sosial dan ekonomi.
Contoh :
-          Variabel skala sikap, diberi kode : 1 untuk sangat tidak setuju, 2 untuk tidak setuju, 3 untuk netral, 4 untuk setuju, 5 untuk sangat setuju.

b.)  Skala Semantik Diferensial
       Disebut juga sebagai skala sikap bipolar, skala ini memiliki perbedaan dengan skala Likert dengan menempatkan opposite statements dari dimensi di awal dan akhir poin pilihan, skala ini memiliki tujuh poin pilihan dengan pernyataan tidak setuju di awal dan setuju di akhir poin, atau sebaliknya.
Contoh :
-          Variabel skala sikap diberi kode : 1 untuk tidak setuju, 2 sampai 6 tidak memiliki pernyataan (kosong), 7 untuk setuju
-          Berkaitan dengan sifat : 1 untuk boring, 2 sampai 6 tidak memiliki pernyataan(kosong), 7 untuk interesting
c.)   Skala Stapel
         Merupakan skala pengukuran yang memiliki dimensi yang ditempatkan pada pusat dari suatu skala yang memiliki interval dari -5 sampai +5, skala ini menyerupai skala interval dengan interval -5 sampai +5, serta bernilai bulat.
Contoh :
-          -5 untuk sangat tidak setuju             +5 untuk sangat setuju.
Daerah kosong (---) di isi dengan bilangan bulat antara -5 sampai +5.
d.)   Skala Thurstone
         Skala Thurstone merupakan skala sikap yang pertama dikembangkan dalam pengukuran sikap. Skala ini mempunyai tiga teknik penskalaan sikap, yaitu :
·      metode perbandingan pasangan
·      metode interval pemunculan sama, dan
·      metode interval berurutan.
Ketiga metode ini menggunakan bahan pertimbangan jalur dugaan yang menganggap kepositifan relatif pernyataan sikap terhadap suatu obyek.

e.)  Skala Guttman
       Skala pengukuran dengan tipe ini, akan di dapat jawaban yang tegas, yaitu ya atau  tidak,  benar atau salah, pernah atau tidak, positif atau negative  dan lain - lain. Data yang di peroleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka pada dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju atau tidak setuju”. Penelitian menggunakan sakal Guttman di lakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang di tanyakan.
Contoh :
      - Apakah anda setuju dengan kebijakan perusahaan menaikkan harga jual?
         a.       Setuju                b. Tidak  Setuju
              f.)  Skala rating
         Dalam skala rating data yang diperoleh adalah data kuantitatif  kemudian peneliti baru mentranformasikan data kuantitatif tersebut menjadi data kualitatif.
Contoh:
-          Kenyaman ruang tunggu RSU Kartini:
5         4         3       2         1
-          Kebersihan ruang parkir RSU Kartini :
5       4          3       2         1

6.     Sumber  Dan Insrtumen Pengumpulan Data
         Data (dataset) merupakan suatu istilah umum untuk pengamatan dan pengukuran yang dikumpulkan selama penyelidikan atau penelitian ilmiah. Menurut sumber pengambilan atau pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  data Internal dan data Eksternal.
a.)  Data internal
 Data internal adalah data yang diperoleh dari perusahaan atau instansi yang bersangkutan. Pada dasarnya data internal meliputi data input dan output suatu perusahaan atau organisasi, sebab suatu organisasi yang dibentuk pasti bertujuan untuk menghasilkan produk barang atau jasa (output).
b.)  Data Eksternal
Data eksternal diperoleh dari luar instansi atau perusahaan tersebut. Data ekstern dibedakan menjadi data primer dan data sekunder.
 1.Data Primer
      Adalah data yang dapat diperoleh atau dikumpulkan lannsung dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya.
2.Data Sekunder
      Adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada.
        Instrurnen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.
        “Instrumen penelitian” yang diartikan sebagai “alat bantu” merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, misalnya angket (question­naire), daftar cocok (checklist) atau pedoman wawancara (interview guide atau interview schedule), lembar pengamatan atau panduan pengamatan (observation sheet atau observation schedule) soal tes (yang kadang-kadang hanya disebut dengan “ter” saja, inventors (invertory), skala (scale), dan lain sebagainya.
        Melihat daftar jenis-jenis metode dan daftar jenis-jenis instrumen tersebut diatas, terdapat istilah-istilah yang sama, yaitu angket dan tes. Dengan demikian ada metode angket dan instrumen angket. Demikian juga ada metode tes dan instrumen tes. Memang instrumen angket digunakan sebagai alat bantu dalam penggunaan metode angket; demikian juga halnya dengan tes. Namun ada kalanya peneliti memilih metode angket tetapi menggunakan daftar cocok sebagai instrumen.
        Menurut pengertiannya, angket adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang (yang dalam hal ini disebut responden), dan cara menjawab juga dilakukan dengan tertulis. Daftar cocok, menunjuk pada namanya, merupakan kumpulan dari pernyataan atau pertanyaan yang pengisiannya oleh responder dilakukan dengan memberikan tanda centang atau tanda cocok (ü) pada tempat-tempat yang sudah disediakan. Jadi “daftar cocok” sebenarnya merupakan semacam angket juga tetapi cara pengisiannya dengan memberikan tanda cocok itulah yang menyebabkan ia disebut demikian.
         Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data. Dengan demikian terdapat kaitan antara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan satu jenis metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.
Berikut beberapa instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data :
a.) Angket
          Angket, seperti telah dikemukakan pengertiannya di atas, merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang yang diberi tersebut bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Orang yang diharapkan memberikan respons ini disebut responden. Menurut cara memberikan respons, angket dibedakan menjadi dua jenis yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.
1.  Angket terbuka
        adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikan rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya.
Angket terbuka digunakan apabiia peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga kemungkinan altematif jawaban yang ada pada responden.
Menggali informasi mengenai identitas responden biasanya dilakukan dengan membuat pertanyaan terbuka. Keuntungan pertanyaan terbuka terdapat pada dua belah pihak yakni pada responden dan pada peneliti:
(1).  Keuntungan pada responden: mereka dapat mengisi sesuai dengan keinginan atau keadaannya.
(2).  Keuntungan pada peneliti: mereka akan memperoleh data yang bervariasi, bukan hanya yang sudah disajikan karena sudah diasumsikan demikian.
2.  Angket tertutup
         adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda centang (x) pada kolom atau tempat yang sesuai.
Contoh pertanyaan angket tertutup:
1)  pernahkan Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan?
Jawab: …………………………….  ….a. Pernah ….b. Tidak
1.      Jika pernah, penataran tentang apa saja? (dapat memberikan centang lebih dari satu)
….a.    materi bidang studi
….b.    metode mengajar/strategi belajar-mengajar
….c.    memilih dan penggunaan media/alat pelajaran
….d.    menyusun alat evaluasi
3. Angket campuran
        yaitu gabungan antara angket terbuka dan tertutup.
Contoh pertanyaan angket campuran:
1)  Pernahkah Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajarkan bidang studi yang sekarang Anda ajarkan? Jika pernah berapa kali?
….a.    Tidak pernah (langsung ke nomor 3)
….b.    Pernah, yaitu …kali (teruskan nomor 2)
2)  Penataran tentang apa saja yang Anda ikuti dan berapa hari lamanya?
1.         Materi pelajaran                                           …..hari
2.         Metode mengajar                                         …..hari
3.         Pemilihan dan penggunaan media               …..hari
4.         Penyusunan alat evaluasi                             …..hari

b.) Daftar Cocok (Checklist)
        Di dalam penjelasan mengenai angket dikemukakan juga bahwa dalam mengisi angket tertutup responden diberi kemudahan dalam memberikan jawabannya. Di lain tempat, yakni di dalam penjelasan umum mengenai instrumen disebutkan bahwa daftar cocok adalah angket yang dalam pengisiannya responden tinggal memberikan tanda cek (ü). Dengan keterangan tersebut tampaknya angket tertutup dapat dikategorikan sebagai checklist. Namur demikian angket bukan khusus merupakan daftar. Daftar cocok mempunyai pengertian tersendiri. Daftar cocok bukanlah angket. Daftar cocok mempunyai bentuk yang lebih sederhana karena dengan daftar cocok peneliti bermaksud meringkas penyajian pertanyaan Berta mempermudali responden dalam memberikan respondennya. Daftar cocok memuat beberapa pertanyaan yang bentuk dan jawabannya seragam. Agar responden tidak diharapkan pada beberapa pertanyaan mengenai berbagai hal tetapi dalam bentuk membaca, maka disusunlah daftar cocok tersebut sebagai pengganti. 
c.) Skala(scale)
         Skala menunjuk pada sebuah instrumen pengumpul data yang bentuknya seperti daftar cocok tetapi alternatif yang disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang. Di dalam Encyclophedia of Educational Evaluationdisebutkan: The term scale in the measurement sense, comes from the Latin word scale, meaning “ladder” or “flight of stairs”. Hence, anything with gradation can be thought of as “scaled”. 
          Skala banyak digunakan untuk mengukur aspek-aspek kepribadian atauaspek kejiwaan yang lain. Selain skala, penelitian yang berhubungan dengdn aspek-aspek kejiwaan memerlukan jenis instrumen-instrumen pengumpul data lain, baik yang berupa tes, inventori untuk hal-hal umum (general inventories, misalnya Minnesota Multiphasic Personality Inventory – MMPI, dan inventori untuk aspek-aspek khusus (Specific Inventories seperti: Rokeach Dogmatism Scala, Fundamental Interpersonal Relations Orientation – Behavior – FIRO – B, Study of Values, dan lain-lain). Untuk penelitian pendidikan, walaupun dapat dikatakan tidak terlalu sering menggunakan instrumen-instrumen seperti disebutkan, tetapi bagi penelitinya perlu juga mengenal ragam alat pengumpul data aspek-aspek psikologi tersebut.
         Problematika pendidikan seperti kerancuan dalam mengikuti pelajaran, lambatnya siswa menyelesaikan studi serta masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar, menjadi topik yang tetap aktual di kalangan pendidikan sekolah formal. Selain penelitian yang tidak terlalu menyangkut aspek-aspek kejiwaan secara langsung, masih banyak problem pendidikan yang terkait dengan aspek kejiwaan tersebut, misalnya rendahnya prestasi disebabkan rendahnya harga diri siswa. Lemahnya semangat belajar dikarenakan adanya lesu kreativitas dan seterusnya. Itulah sebabnya dalambagian ini akan disajikan pula beberapa contoh instrumen untuk mengungkap aspek-aspek kejiwaan agar para peneliti pendidikan dapat terperinci menggali penyebab timbulnya masalah pendidikan melalui aspek kejiwaan siswa dan guru yang terlibat di dalam kegiatan pendidikan tersebut. Namun demikian untuk dapat menggunakan alat-alat pengungkap gejala kejiwaan seperti tes, inventori khusus dan lain-lain, diperlukan suatu kemampuan khusus. Pada umumnya mahasiswa lulusan faktultas Psikologi dapat diminta untuk membantu melaksanakan pengumpulan data yang diungkap melalui instrumen-instrumen tersebut.
         Skala seperti dicontohkan di atas merupakan skala bentuk gradasi dari satu jenis kualitas. Dalam contoh di atas, alternatifnya ada empat sehingga terdapat empat tingkatan kualitas kes eringan. Skala yang berasal dari ide yang dikemukakan oleh Likert dan dikenal dengan skala Likert ini biasanya menggunakan lima tingkatan. Tentu saja peneneliti dapat membuat variabel dengan menyingkat menjadi tiga tingkatan:
Selalu          –  Kadang-kadang       – Tidak Pernah
Baik             –  Cukup                   – Jelek
Besar           –  Sedang                  –  Kecil
Jauh            –   Cukup                  –  Dekat

dan dapat pula memperbesar rentangan menjadi lima tingkatan:
Selalu          – Sering Sekali     –  Sering      – Jarang   – Jarang Sekali
Selalu          –  sering sekali      –  Sering      –  Jarang   – Tidak Pernah
Baik Sekali    – Baik                –  Cukup      –  Jelek      –  Jelek Sekali
Besar Sekali  – Besar              –   Cukup       –  Kecil      – Kecil Sekali
Misalnya:
  Sangat setuju
         Setuju
      Abstain
   Tidak Setuju
 Sangat Tidak Setuju
           (SS)
          (S)
          (A)
          (TS)
            (STS)
       Pemilihan alternatif diserahkan pada keinginan dan kepentingan peneliti yang menciptaka instrumen tersebut. Ada Jenis lain yang telah dikembangkan oleh Inkels, bukan menyajikan alternative jenjang kualitas untuk sesuatu predikat, tetapi jenjang dari kualitas mini suatu perbuatan. Bentuk skala model. indeks ini menyerupai tes objektif bentuk pilihan ganda, tetapi alternatifnya menunjuk pada gradasi.
Langkah-Langkah Dalam Menyusun Instrumen
        Secara umum penyusunan instrumen pengumpul data dilakukan dengan penahapan sebagai berikut:
1.  Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam      rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika penelitian.
2.  Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.
3.  Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.
4.  Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.
5.  Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
6.  Melengkapi instrumen dengan (pedoman atau instruksi) dan kata pengantar.
   7.   Macam-macam  Penyajian  Data
Ada dua cara penyajian data yang sering dilakukan, yaitu :
a) daftar atau tabel,
b) grafik atau diagram.

1. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
        Misalkan, hasil ulangan Bahasa Indonesia 37 siswa kelas XI SMA 3 disajikan dalam tabel di bawah. Penyajian data pada Tabel 1.1 dinamakan penyajian data sederhana. Dari tabel 1.1, Anda dapat menentukan banyak siswa yang mendapat nilai 9, yaitu sebanyak 7 orang. Berapa orang siswa yang mendapat nilai 5? Nilai berapakah yang paling banyak diperoleh siswa?.

       Jika data hasil ulangan bahasa Indonesia itu disajikan dengan cara mengelompokkan data nilai siswa, diperoleh tabel frekuensi berkelompok seperti pada Tabel 2.. Tabel 2. dinamakan Tabel Distribusi Frekuensi.
Tabel 1. Penyajian data sederhana

       Nilai
Frekuensi
          2
         7
          4
         3
          5
         5
          6
         4
          7    
        10
          9
         7

Tabel 2. Tabel Distribusi Frekuensi

  Interval Kelas
         Turus
        Frekuensi
            1–2
        EB
7
            3–4
         C
3
            5–6
        EC
8
            7–8
        EE
10
            9–10
        EC
8

        Jumlah
37




2. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
        Kerapkali data yang disajikan dalam bentuk tabel sulit untuk dipahami. Lain halnya jika data tersebut disajikan dalam bentuk diagram maka Anda akan dapat lebih cepat memahami data itu. Diagram adalah gambar yang menyajikan data secara visual yang biasanya berasal dari tabel yang telah dibuat. Meskipun demikian, diagram masih memiliki kelemahan, yaitu pada umumnya diagram tidak dapat memberikan gambaran yang lebih detail.

a. Diagram Batang
     Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data cacahan). Diagram batang adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk batang yang dicatat dalam interval tertentu pada bidang cartesius.
Ada dua jenis diagram batang, yaitu
1. diagram batang vertikal
                 2. diagram batang horizontal.

b. Diagram Garis
       Pernahkah Anda melihat grafik nilai tukar dolar terhadap rupiah atau pergerakan saham di TV? Grafik yang seperti itu disebut diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menggambarkan data tentang m keadaan yang berkesinambungan (sekumpulan data kontinu). Misalnya, jumlah penduduk setiap tahun, perkembangan berat badan bayi setiap bulan, dan suhu badan pasien setiap jam.
       Seperti halnya diagram batang, diagram garis pun memerlukan sistem sumbu datar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang saling berpotongan tegak lurus. Sumbu mendatar biasanya menyatakan jenis data, misalnya waktu dan berat. Adapun sumbu tegaknya menyatakan frekuensi data. Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat diagram garis adalah sebagai berikut.
1. Buatlah suatu koordinat (berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar  menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan data pengamatan.
2.Gambarlah titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
3.Secara berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titiktitik koordinat tersebut dengan garis lurus.
c. Diagram Lingkaran
         Untuk mengetahui perbandingan suatu data terhadap keseluruhan, suatu data lebih tepat disajikan dalam bentuk diagram lingkaran. Diagram lingkaran adalah bentuk penyajian data statistika dalam bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring lingkaran.

Langkah-langkah untuk membuat diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
1.Buatlah sebuah lingkaran pada kertas.
2.Buatlah lingkaran tersebut menjadi beberapa juring lingkaran untuk     menggmbarkan kategori yang datanya telah diubah kedalam kertas.
       8. Hipotesis Penelitian
             a.) Definisi Hipotesis
          Menurut Wikipedia Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Menurut Sutrisno Hadi Hipotesis adalah tentang pemecahan masalah. Secara umum hipotesa atau hipotesis merupakan dugaan/anggapan yang diungkap berdasarkan teori-teori yang dipelajari untuk menyelesaikan suatu masalah. Dugaan/anggapan awal sering disebut hipotesis nol atau hipotesis awal. Sedangkan dugaan/anggapan yang diperlukan untuk menyanggah dugaan awal disebut hipotesis alternatif. Kebenaran dari suatu hipotesis masih perlu diuji melalui beberapa pengujian. Apakah faktor-faktor yang disebutkan dalam penelitian mampu untuk membuktikan kebenaran dari suatu hipotesis.
Namun secara bahasa, hipotesis berasal dari bahasa Yunani dimana kata “hypo” yang artinya di bawah, dan “thesis” yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan mengenai definisi hipotesis secara bahasa adalah suatu pernyataan ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian dimana kebenarannya masih belum terbukti atau dikatakan masih perlu diuji kebenarannya. Pengertian hipotesis menurut beberapa ahli yaitu Sutrisno Hadi adalah tentang pemecahan masalah dimana seringkali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan.
             b.)  Kegunaan Hipotesis
        Dalam menyusun suatu hipotesis seorang peneliti akan menentukan arah dan tujuan dari penelitian yang dilakukan, namun perlu dibahas juga mengenai kegunaan hipotesis itu sendiri. Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat beberapa alasan utama yang mendukung pandangan ini :
a)        Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan antarvariabel yang diteliti dimana langsung dapat diuji dalam penelitian
b)        Hipotesis memberikan arah dan tujuan dalam penelitian
c)    Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti.
d)   Untuk mengetahui apakah memang secara signifikan terdapat perbedaan atau pengaruh antara variabel-variabel yang diteliti
e)    Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penelitian. Akan sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut. 
f)         Hipotesis merupakan tujuan khusus yang dapat menguji suatu teori. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta yang ada hubungannnya dengan pertanyaan tertentu.
g)    Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada diantara fakta-fakta tersebut. Antar hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat diuji dan divalidasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.
               c.) Ciri-ciri hipotesis yang baik
        Suatu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan atau membiaskan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
·   * Dinyatakan dalam Kalimat yang Tegas
    * Dapat diuji secara ilmiah.
    * Dasar dalam merumuskan hipotesis kuat.
·   Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu   hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.

d.)Macam-macam Hipotesis
       Menurut bentuknya, hipotesis dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.) Hipotesis penelitian / hipotesis kerja
        Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
2.)  Hipotesis operasional
       Hipotesis operasional merupakan hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol (H0).
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
3.)  Hipotesis statistik
         Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik.
         Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0

e.)   Macam-macam pengujian hipotesis
         Pengujian hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan atas analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol maupun dari observasi. Dalam statistika  sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya. Uji hipotesis kadang disebut juga "konfirmasi analisa data". Keputusan dari uji hipotesis hampir selalu dibuat berdasarkan pengujian hipotesis nol. Ini adalah pengujian untuk menjawab pertanyaan yang mengasumsikan hipotesis nol adalah benar.
Berikut ini adalah macam-macam pengujian hipotesis
a.      Berdasarkan Jenis Parameternya
·         Pengujian hipotesis tentang rata-rata (Uji 2 sampel berpasangan)
·         Pengujian hipotesis tentang proporsi (
·         Pengujian hipotesis tentang varians (ANOVA)
b.       Berdasarkan Jumlah Sampelnya
·         Pengujian sampel besar (n > 30)
·         Pengujian sampel kecil (n ≤ 30)
c.      Berdasarkan Jenis Distribusinya
·         Pengujian hipotesis dengan distribusi Z
·         Pengujian hipotesis dengan distribusi t (t-student)
·         Pengujian hipotesis dengan distribusi χ2 (chi-square)
·         Pengujian hipotesis dengan distrbusi F (F-ratio)
d.       Berdasarkan Arah atau Bentuk Formulasi Hipotesisnya
·         Pengujian hipótesis dua pihak (two tail test)
·         Pengujian hipotesis pihak kiri atau sisi kiri
·         Pengujian hipotesis pihak kanan atau sisi kanan

1 komentar:

  1. Dalam Bahasa Inggris Sering Disebut Cock Fight Dimana permainan ini mengadu antara dua ekor ayam jantan dalam sebuah arena pertandingan adu ayam ini memiliki sebutan didalam arena yaitu Sabung Ayam, permainan ini biasanya diikuti oleh perjudian yang berlangsung tak jauh dari arena sabung Ayam Bangkok

    BalasHapus