I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pakan merupakan salah satu faktor
terpenting dalam semua usaha peternakan, baik sapi, kambing maupun ternaka
unggas. Produktivitas/performans ternak 70% dipengaruhi oleh faktor lingkungan
dan 30% oleh faktor genetik. Ini berart walaupun secara genetik ternak memiliki
potensi yang bagus akan ttapi lingkungan tidak mendukung maka performans nya
tidak maksimal. Dari faktor lingkungan ini pakan paling berpengaruh yaitu
mencapai 60%, jadi tidaklah heran jika pakan menjadi hal yang paling
diperhatikan dalam pemeliharaan ternak.
Karena besarnya pengaruh pakan
terhadap produksi maka biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakanpun tidak
bisa dianggap ringan, bahkan biaya pakan ini mencapai 60 - 80% dari total biaya
produksi. Oleh karena itu jika usaha ternak kita dapat engemat biaya pakan akan
sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas usaha.
Pada usaha ternak sapi dan ternak
ruminansia lainnya dimana ketersediaan pakan berupa hijauan mutlak dibutuhkan,
dengan adanya perubahan alih fungsi lahan dan perubahan iklim akan membatasi
ketersediaan bahan pakan bagi ternak tersebut. Selain itu sering kali berebut
lahan hijauan pakan ternak dengan lahan pertanian tanaman pangan atau tanaman
pertanian lainnya.
Untuk itu integrasi dengan usaha
pertanian meruppakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan yang
berkesinambungan. Optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri
dapat memperbaiki ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia. Akan tetapi
biasanya limbah pertanian memiliki kualitas yang kurang baik untuk pakan
ternak, maka perlu adanya pengolahan terlebih dahulu untuk menngkatkan mutu
dari bahan pakan limbah pertanian misalnya dengan amoniasi atau dengan
fermentasi.
Secara bahan pakan asal pertanian
dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahan limbah pertanian dan bahan limbah
agroindustri. Bahan limbah pertanian misalnya jerami padi, jerami jagung,
jerami kacang tanah, jerami kedelai, tumpi jagung, tonggkol jagung, kulit
kacang tanah, pelepah sawit dll, sedangkan limbah agro industri misalnya dedap
padi, ampas tahu, ampas pabrik roti, bungkil kelapa, kedelai afkir dll.
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai
pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil
budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas
jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian
(khususnya jerami) harganya murah. Dari sudut pandang pertanian
pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang biasanya
hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi.
Untuk
mencapai pertumbuhan produksi yang optimal, ternak membutuhkan asupan nutrien
yang lengkap dan seimbang. Defisiensi dan ketidakseimbangan nutrien akan
menyebabkan gangguan metabolisme, pertumbuhan dan produksi. Karbohidrat,
protein dan mineral merupakan nutrien yang berperan penting dalam menunjang
pertumbuhan dan produksi ternak. Pemenuhan kebutuhan nutrien tersebut bagi
ternak ruminansia umumnya berasal dari rumput alam ataupun limbah pertanian
yang rendah kualitasnya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan ternak. Daun
ubi kayu dan daun leguminosa pohon seperti lamtoro, gamal, sengon mengandung
protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput alam karena itu dapat
digunakan sebagai komponen penyusun pakan bagi ternak ruminansia.
Ternak
ruminansia diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena pakan utamanya
adalah tanaman atau tumbuhan. Kambing dan sapi merupakan hewan mamalia karena
menyusui anaknya sistem pencernaan yang khas didalam rumen menyebabkan Kambing
dan sapi digolongkan sebagai hewan ruminansia. Ternak kambing/domba yang banyak
dipelihara di Indonesia adalah domba lokal, domba ekor tipis, domba ekor gemuk,
domba priangan, domba merino, dan domba dorset (Sodiq dan Abidin, 2002). Terdapat
berbagai bangsa sapi potong yang ada di negara kita yang dapat digunakan
sebagai bakalan dalam penggemukan sapi potong, diantaranya sapi Peranakan
Ongole (PO) dan Simmental. Sapi PO merupakan persilangan sapi Ongole jantan dan
sapi betina Jawa. Sapi PO mempunyai warna kelabu kehitam – hitaman dengan
bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam. Bentuk tubuh besar,
kepala relatif pendek dan bertanduk pendek (Hardjosubroto, 1994).
Kartadisastra
(1997), menyatakan bahwa ternak ruminansia memilki empat bagian perut yaitu
rumen, retikulum, omasum, abomasum fungsi dan peran ketiga rumen perut (rumen,
retikulum, omasum) tersebut adalah: alat pencerna mekanis, penghasil bakteri
pencerna serat kasar, penghasil protein dan asam amino esensial dan melakukan
sisntesis vitamin B. Didalam rumen terkandung berjuta-juta bakteri dan protozoa
yang menggunakan campuran pakan dan air sebagai media hidupnya. Bakteri
tersebut memproduksi enzim pencerna serat kasar dan protein, serta mensintesis
viatamin B yang baru dan akhirnya dicerna oleh induk semang sebagai protein
hewani yang dikenal dengan sebutan protein mikroba, hasil pemecahan pakan oleh
bakteri yang berupa asam-asam lemak, mineral, air, amonia dan glukosa langsung diserap melalui dinding rumen. Pakan ternak ruminansia terdiri dari hijauan
sebagai pakan utama dan konsentrat sebagai pakan tambahan. Hijauan diartikan
sebagai pakan yang mengandung serat kasar atau bahan yang tidak tercerna
relatif lebih tinggi dibanding konsentrat. Jenis pakan hijauan ini adalah
rumput – rumputan, legume dan jerami, sedangkan konsentrat merupakan pakan yang
mengandung kadar energi dan protein tinggi dan mengandung serat kasar yang
rendah. Konsentrat dapat berupa biji – bijian dan atau limbah hasil proses
industri pengolahan hasil – hasil pertanian (Akoso, 1996). Untuk mencapai
produktivitas ternak yang tinggi diperlukan tambahan unsur – unsur mikro
seperti mineral dan vitamin. Molasses Block (MB) merupakan salah satu jenis
pakan suplemen yang mengandung unsur – unsur mikro tersebut.
Pakan
mempunyai peranan yang sangat penting didalam kehidupan ternak. Kita ketahui
bahwa biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu
mencapai 70-80%. Keterbatasan pakan menyebabkan daya tampung ternak pada suatu
daerah menurun atau dapat menyebabkan gangguan produksi dan reproduksi yang
normal. Hal ini antara lain dapat diatasi bila potensi pertanian/industri
maupun limbahnya ikut dipertimbangkan dalam usaha peternakan. Asalkan kita tahu
secara tepat nilai guna dan daya gunanya serta tahu teknologi yang tepat pula
untuk mengelolanya agar lebih bermanfaat.
Wafer merupakan salah satu bentuk pakan olahan yang
dibentuk sedemikian rupa dari bahan konsentrat dan hijauan dengan tujuan untuk
mengurangi sifat keambaan pakan. Wafer pakan merupakan pakan alternatif sebagai
pakan cadangan pengganti dari pakan hijauan bagi trnak ruminansia. Banyak pakan
alternatif sebagai pengganti hijauan pada musim kering, tetapi wafer sayuran
ini merupakan inovasi terbaru dalam pemanfaatan limbah pertanian yang berupa
sampah sayur di pasar sebagai pakan ternak kambing, apabila dibiarkan akan
mencemari lingkungan maka terdapat ide untuk memanfaatkan sampah menjadi
keuntungan yaitu wafer limbah sayuran. kandungan sayur kaya akan serat. Dengan
penerapan teknologi pengolahan
pakan seperti pencacahn rumput dan
atau limbah pertanian yang
diolah menjadi wafer dapat meningkatkan kualitas dan palatabilitas serta
mempermudah pengangukan . Wafer merupakan salah satu teknologi pengolahan pakan
yang efektif dan diharapkan dapat menjaga kontinuitas ketersediaan pakan,
terutama pada musim kemarau.
Salah satu sektor yang belum banyak
dimanfaatkan adalah limbah pertanian. Limbah pada dasarnya adalah suatu bahan yang tidak dipergunakan kembali dari
hasil aktifitas manusia, ataupun proses-proses alam yang belum mempunyai nilai
ekonomi, bahkan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Dikatakan mempunyai nilai
ekonomi yang rendah karena limbah dapat mencemari lingkungan dan penangannya
memerlukan biaya yang cukup besar. Pemanfaatan limbah merupakan salah satu
alternatif untuk menaikkan nilai ekonomi limbah tersebut.
Salah satu limbah pertanian yang
dapat dimanfaatkan adalah tanaman tanaman jagung, dalam bentuk batang, daun,
dan janggel jagung. Batang dan daun jagung sudah biasa dimanfaatkan untuk pakan
sapi, namun janggel atau tongkol jagung terutama di Kalimantan Selatan belum
biasa dimanfaatkan untuk pakan sapi. Janggel hanya dibakar karena merupakan
limbah dan mengganggu lingkungan. Tongkol jagung sangat potensial untuk dapat
dikembangkan sebagai pakan ruminansia. Namun hasil samping ini belum
dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pakan. Permasalahan utama penggunaan
janggel jagung sebagai pakan sapi adalah tingginya kandungan serat kasar sulit
tercerna yang berupa lignin dan silika. Kadar lignin dan silika yang tinggi
mengakibatkan kecernaan janggel jagung menjadi rendah dan konsumsinya oleh
ternak terbatas. Sehingga perlu dicari teknologi yang dapat meningkatkan nilai
nutrisi dan kecernaannya.
Upaya untuk meningkatkan kualitas
nutrisi janggel jagung sebagai pakan ternak ruminansia dengan menggunakan
metode fermentasi diharapkan dapat meningkatkan kandungan protein kasar,
menurunkan serat kasar serta dapat meningkatkan kecernaannya. Fermentasi yaitu
proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologi sehingga
bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak
menjadi lebih efesien. Upaya meningkatkan nilai gizi janggel jagung dapat
menggunakan cairan rumen, EM4 dan trichoderma sebagai biodekomposernya.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan Resume atau makalah
ini adalah untuk mendapatkan gambaran potensi limbah pertanian dan industri
pertanian, serta teknologi pengolahannya sebagai bahan pakan alternatif yang
layak dan aman bagi ternak dan mampu meningkatkan produk pangan, terutama
daging yang dihasilkannya.
Manfaat dari penulisan makalah ini
adalah diperolehnya informasi potensi limbah pertanian dan industri pertanian,
serta teknologi pengolahannya sebagai bahan pakan alternatif yang layak dan
aman bagi ternak maupun manusia sesuai wilayah, serta meletakkan dasar bagi
pengembangan teknologi pengolahan, dan penerapannya.
1.3 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak rumnansia?
2.
Teknologi apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah limbah sebagai pakan
ternak?
II
PEMBAHASAN
2.1 Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak
Ruminansia
Limbah adalah sisa atau hasil ikutan
dari produk utama limbah. Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian
diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang tersisa setelah dipanen atau
diambil hasil utamanya (Sutrisno,2002) dalam Sitorus (2002) dan merupakan pakan
alternatif yang digunakan sebagai pakan, khususnya ruminansia (Widiyanto, 1993)
dalam Sitorus (2002). Beberapa limbah pertanian yang potensial dan belum banyak
dimanfaatkan secara optimal berturut-turut antara lain jerami padi, jerami
jagung, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat dan jerami kacang tanah
(Soejono et al., 1988; Van Bruchem dan Sutanto, 1988; Widiyanto, 1993;
Pangestu,1995; Widyati et al., 1997) dalam Sitorus (2002) Bahan baku pakan asal
pertanian secara umum dapat dikelompokkan menjadi: Limbah pertanian dan limbah
agroindustri. Bahan baku pakan yang termasuk limbah pertanian dan agroindustri
disajikan pada Table 1 (Agustini, 2010).
Tabel Bahan baku pakan asal
limbah pertanian dan agroindustri
|
No
|
Limbah Pertanian
|
Limbah Agroindustri
|
|
1
|
Jerami
Padi
|
Dedak Padi
|
|
2
|
Jerami
Jagung
|
Ampas Tahu
|
|
3
|
Tumpi
Jagun
|
Ampas
Pabrik Roti
|
|
4
|
Jerami
Kedelai
|
Bungkil
Kelapa
|
|
5
|
Jerami
Kacang Tanah
|
Bungkil
Kedelai
|
|
6
|
Jerami
Kacang Hijau
|
|
|
7
|
Jerami
Komak
|
|
|
8
|
Kulit
Kacang Tanah
|
Sumber : Agustini (2010)
Pada peternak masih rendah
karena rendahnya tingkat pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan
disebabkan peternak membakar limbah (jerami padi/jagung/ ubi jalar)
setelah panen dimana limbah ini berfungsi sebagai pupuk organik di samping itu
adanya anggapan dari peternak bahwa hijauan pakan tersedia dalam jumlah
yang mencukupi dilahan pekarangan, sawah dan kebun untuk kebutuhan ternak.
Penelitian (Syamsu, 2007) dalam Liana & Febrina (2011) menunjukkan hanya 37.88%
peternak di Sulawesi Selatan yang menggunakan limbah pertanian sebagai pakan.
Beberapa faktor yang menyebabkan peternak tidak menggunakan limbah
tanaman pangan sebagai pakan adalah Liana & Febrina (2010) :
a) umumnya petani membakar limbah tanaman pangan terutama
jerami padi karena secepatnya akan dilakukan pengolahan tanah,
b) limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga
menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan
kepada ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak
sehingga membutuhkan biaya dalam pengangkutan,
c) tidak tersedianya tempat penyimpanan limbah tanaman
pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di sekitar
rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran,
d) peternak menganggap bahwa ketersediaan hijauan di
lahan pekarangan, kebun, sawah masih mencukupi sebagai pakan ternak. Di
sentra-sentra penghasil padi, banyak jerami yang dibuang atau dibakar begitu
saja setelah bulir-bulir padi dipanen. Padahal jerami tersebut setelah
dikeringkan dan disimpan dengan baik digudang dapat dimanfaatkan untuk bahan
pakan ternak ruminansia andalan.
Dengan memiliki persediaan jerami
padi kering, peternak tak perlu lagi ngarit (mencari rumput) atau membeli
hijauan segar untuk pakan sapi (Saswono & Arianto, 2006). Selama ini hampir
50% jerami padi dibakar, abunya dikembalikan ke tanah sebagai kompos dan hanya
35% yang digunakan sebagai pakan ternak. Sistem integrasi ternak dengan tanaman
pangan tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah pertanian yang dihasilkan,
tetapi juga meningkatkan jumlah dan kualitas pupuk organik yang berasal dari
ternak sehingga mampu memperbaiki kesuburan lahan (Maryono, 2010).
2.2 Teknologi
Pemanfaatan Limbah Sebagai Pakan Ternak
Ø Wafer / Roti Sapi
Manajemen
pakan merupakan komponen penting didalam pemeliharaan ternak. Biaya pakan
merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80 %.
Keterbatasan pakan menyebabkan daya tampung ternak pada suatu daerah menurun
serta menyebabkan gangguan produksi dan reproduksi. Solusi permasalahan
tersebut yaitu mendayagunakan limbah pertanian/industri dalam usaha peternakan.
Ini tidak menjadi suatu yang berlebihan mengingat Indonesia merupakan negara
agraris. Asalkan kita tahu secara tepat nilai guna dan daya gunanya serta tahu
teknologi yang tepat pula untuk mengelolanya.
Kendala utama
dari pemanfaatan rumput dan atau limbah pertanian antara lain adalah
pengangkutan, karena pada umumnya rumput atau limbah pertanian membutuhkan
tempat yang luas untuk setiap satuan beratnya. Dengan penerapan teknologi
pengolahan pakan seperti pencacahan rumput dan atau limbah pertanian yang
diolah menjadi Roti /Wafer untuk ternak dapat meningkatkan kualitas dan
palatabilitas serta mempermudah pengangkutan.
Wafer
merupakan salah satu bentuk pakan olahan yang dibentuk sedemikian rupa dari
bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan
pakan. Wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak yang merupakan
modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pemadatan dengan
tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu (Noviagama, 2002). Teknologi CCFB
sangat potensial untuk usaha efisiensi limbah pertanian dan peningkatan daya
guna hasil samping agroindustri termasuk sisa pengolahan dengan biaya
rendah dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ruminansia saat mengalami
kekurangan pakan yang terjadi akibat banjir dan musim kemarau (Noviagama, 2002).
Stevent (1981) dan Coleman and Lawrence (2000) menjelaskan keuntungan
pakan olahan adalah:
a. Meningkatkan densitas pakan sehingga
mengurangi keambaan,
b. Mengurangi tempat
penyimpanan,
c. Menekan biaya transportasi,
d. Memudahkan penanganan dan
penyajian pakan,
e. Densitas yang tinggi akan
meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer,
f. Mencegah “de-mixing” yaitu
peruraian kembali komponen penyusun pakan sehingga konsumsi pakan sesuai dengan
kebutuhan standar,
g. Memudahkan untuk mengontrol,
memonitor, dan mengatur “feed intake” ternak,
h. Kandungan nutrient yang
konsisten dan terjamin,Mengurangi debu dan masalah pernafasan pada ternak.
Coleman and
Lawrence (2000) menambahkan bahwa kelemahan dari pakan olahan dalam hal ini
wafer antara lain adalah:
a. Pemberian kepada ternak harus
disesuaikan dengan kebutuhan agar ternak tidak mengalami kelebihan berat badan
maupun gangguan pencernaan;
b.Gudang penyimpanan wafer
memerlukan area dan penanganan khusus untuk menghindari kelembaban udara;
c. Pengolahan bahan pakan
menjadi wafer membutuhkan biaya tambahan yang akan mempengaruhi biaya produksi.
Roti Sapi
(Wafer) merupakan salah satu teknologi pengolahan pakan yang efektif dan
diharapkan dapat menjaga kontinuitas ketersediaan pakan, terutama pada musim
kemarau.
·
Bahan-bahan
1. Hijauan dan atau limbah
pertanian : 40 %
2. Leguminosa : 10%
3. Konsentrat : 40%
4. Bahan perekat : 10%.
Keterangan :
Salah satu contoh konsentrat yang dapat dipakai terdiri dari :
Salah satu contoh konsentrat yang dapat dipakai terdiri dari :
1. Dedak padi (bekatul) : 27,50%
2. Jagung giling halus : 52,50%
3. Bungkil Kelapa : 18,75%
4. Garam dapur : 1,25%
Peralatan yang diperlukan
1. Pemotong rumput : sabit,
chooper
2. Alat Pengepres
3. Alat pemanas
4. Cetakan dengan ukuran
(35x35x1,5) cm
·
Cara Pembuatan Roti sapi (wafer)
1. Rumput dan limbah pertanian dicacah, dengan ukuran 3-5 cm. Tujuannya
untuk mempercepat proses pengeringan serta memudahkan dalam pencampuran dengan
bahan perekat.
2. Rumput dan limbah pertanian yang sudah dicacah dan leguminosa
dikeringkan dibawah sinar matahari (+ 24 jam).
3. Leguminosa yang sudah kering kemudian digiling
4. Rumput dan atau limbah pewrtanian yang sudah kering dicampur dengan
bahan perekat sampai rata, kemudian ditambahkan leguminosa yang telah digiling
dan konsentrat dan diaduk sampai homogeny.
5. Campuran yang sudah homogen dimasukkan kedalam cetakan (mall) yang telah
dipanaskan untuk dipadatkan.
6. Kemudian dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan selama + 24 jam pada
suhu kamar.
Kualitas roti sapi (Wafer)
tergantung dari bentuk fisik, tekstur, warna, aroma dan kerapatan :
1. Bentuk fisik Roti sapi (Wafer) yang terbentuk padat dan kompak sangat
menguntungkan, karena mempermudah dalaam penyimpanan dan penanganan
2. Tekstur Tekstur menentukan mudah tidaknya menjadi lunak dan
mempertahankan bentuk fisik serta kerenyahan
3. Warna Hasil reaksi karbohidrat, khususnya gula pereduksi dengan gugus
amino primer menyebabkan roti sapi berwarna coklat.
4. Aroma Hasil reaksi maillard
mengeluarkan baud an aroma khas karamel.
5. Kerapatan semakin tinggi kerapatannya roti sapi akan semakin baik,
kaena pertambahan airnya semakin rendah.
Ø Fermentasi
Fermentasi merupakan proses
pembiakan protein sel tunggal. Protein sel tunggal yang biasa di pakai adalah
yang di produksi dengan media kultur cair missal : kefir, yoghurt, asam cuka.
Sedang protein sel tunggal media subtract padat missal : oncom, tempe, tempe,
kecap.
Tujuan awal fermentasi untuk
meningkatkan nilai tercernak pakan, sehingga penyerapan nilai nutrisi pakan
lebih optimal, yang pada akhirnya seharusnya produktivitas akan meningkat.
RAGI
Atau ada juga yang menyebutnya Laru,
bibit atau biang jamur/kapang yang dipergunakan dalam fermentasi. Ragi tempe
mengandung kapang Rhizopus orizae, yang pada pertumbuhannya mampu memecah
susunan kimia protein komplek menjadi sederhana sehingga mudah di cerna.
Macam ragi yang biasa di gunakan,
Rhizopus spec, Rhizopus oligosporus, Rhizopus ,champydosporus, Aspergillus
niger, ragi tape atau mikro organism lain seperti EM 4, fermetan jerami atau
yang lainnya lagi, karena sekarang banyak banget merk keluaran pabrik yang
telah dijual bebas.
UREA
Urea di sini yang di maksudkan adalah
urea yang sering di pakai buat pupuk tananman . Yang mana kandungannya 46 %
adalah Nitrogen. Kenapa di pakai, untuk menjadi bom protein, bersama-sama
dengan sisa subtract mineral, nitrogen urea dan sel-sel mikroba, beserta
perombakan pati, meningkatkan nilai prosentase protein yang di namakan Protein
Enrichment.
Yang perlu di perhatikan di sini,
kebutuhan protein bangsa Unggas ayam dan ternak itik adalah protein yang berupa
Asam Amino, kesepuluh asam amino komplit. Ini artinya penggunaan urea hanya di
khususkan untuk hewan Ruminansia sapi, kerbau, kambing, domba. Yang mana dalam
ke empat organ pencernakan banyak mengandung jutaan mikro organism yang
membantu proses penyerapan nutrisi pakan.
Beberapa simulasi pembuatan Fermentasi bahan pakan
sbb:
Adapun proses pembuatan Fermentasi adalah sbb.
1.
Bahan yang akan di Fermentasi di kukus atau di uap,
tujuannya adalah supaya bahan bahan tsb. Bebas dari kuman atau matang
2.
Setelah di kukus didinginkan barulah di campur dengan
air + ragi tape jerami disesuaikan dengan type yang sesuai.
3.
Dalam Fermentasi nya bisa di tambahkan bahan bahan
antara lain : urea, tetes atau gula cair.
Type atau jenis Fermentasi di
sesuaikan dengan penggunaannya untuk bebek lebih baik type basah, ayam dan
kambing atau sapi semi kering atau kering.
1. Basah
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur
dengan air 7-8 liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5 cc,
setelah itu diaduk rata bahan siap di Fermentasi di ruangan tertutup selama 2-5
hari. Setelah Fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di
berikan untuk ternak.
2.Semi kering
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur
dengan air 5-6 liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5
cc, setelah itu diaduk rata bahan siap di fermentasi di ruangan tertutup selama
2-5 hari. setelah fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di
berikan untuk ternak.
3. Kering
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur
dengan air 3-4 liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5 cc,
setelah itu diaduk rata bahan siap di Fermentasi di ruangan tertutup selama 2-5
hari. Setelah Fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di
berikan untuk ternak.
Kapang Trichoderma Viride
Enzim yang dapat menghidrolisis
selulosa adalah selulase. Produksi selulase secara komersial biasanya
menggunakan kapang atau bakteri. Kapang yang bisa menghasilkan selulase adalah
Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan lain-lain. Bakteri yang bisa menghasilkan
selulase adalah Pseudomonas, Cellulomonas, dan Bacillus. Diantara beberapa jenis kapang dan bakteri yang bisa
menghasilkan selulase, yang potensial untuk dikembangkan dalam pembuatan enzim
selulase salah satunya adalah kapang Trichoderma
viride.
Trichoderma
viride adalah kapang berfilamen yang sangat dikenal sebagai organisme selulolitik
dan menghasilkan enzim-enzim selullolitik,
termasuk enzim selobiohidrolase, endoglukanase dan ß-glukosidase. Kelebihan dari Trichoderma viride selain
menghasilkan enzim selulolitik yang lengkap, juga menghasilkan enzim xyloglukanolitik. Keberadaan enzim ini
akan semakin mempermudah enzim selulolitik dalam memecah selulosa (Gunam et al. 2010).
Trichoderma viridae merupakan kapang
saprophyt yang banyak dimanfaatkan untuk proses fermentasi, karena kapang ini
dapat menghasilkan enzim selulase kompleks. Enzim tersebut mempunyai kemampuan
untuk menghidrolisa total selulase murni yang tidak dapat larut menjadi
glukosa. Penguraian selulosa menjadi glukosa akan meningkatkan populasi mikroba
terutama yang bersifat selulolitik (Aisjah, 2011).
Untuk keperluan fermentasi,
Trichoderma bisa aktivasi dengan menggunakan media air steril, yang dimasukkan
ke dalamnya gula pasir (1% dari volume air), urea (1%) dan NPK (0.5% dari berat
air), lalu dilarutkan. Ke dalam larutan tersebut dimasukkan bibit kapang
Tricoderma sebanyak 1% dari volume air. Lalu larutan diaerasi menggunakan
aerator selama 35-48 jam.
Pada praktikum teknologi pemanfaatan
limbah yang telah dilakukan, larutan Trichoderma virede tersebut kemudian
dijadikan inokulan dalam fermentasi pada tongkol jagung, kulit jagung dan juga
kulit kakao atau coklat. Sebelum difermentasi, masing-masing bahan tongkol
jagung, kulit jagung dan juga kulit kakao mendapatkan dua perlakuan yaitu cacah
yan giling , untuk memperkecil bentuknya dan kemudian dikeringkan. Melalui
teknik fermentasi, akan dapat meningkatkan kandungan protein dan energi bahan,
sehingga akan lebih mudah dicerna oleh ternak (Guntoro, 2009).
Fermentasi
dilakukan dalam kantong plastik. Langkah-langkah proses fermentasi yaitu mencacah
tongkol jagung, kulit jagung dan kulit kakao menggunakan chooper hingga kecil-kecil,
kemudian bahan-bahan tersebut ditimbang sebanyak 100 gr per unit percobaan.
Kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik yang tahan panas dan dimasukkan ke
dalam Autoclave selama 15 menit bersuhu 121 derajat celcius yang bertujuan
untuk membunuh dan mensterilkan media dari mikroba ataupun bakteri yang ada
pada media yang akan diinokulasikan. Setelah dingin media siap diinokulasikan
dengan dua cuplikan kapang trichoderma
viride, dan ditutup rapat dengan menggunakan kapas dan plester, terakhir
media yang sudah diinokulasikan dimasukkan kedalam inkubator
Ø Mineral Blok
Mineral blok
merupakan sumber mineral untuk pertumbuhan tulang, gigi, dan jaringan otot
serta reproduksi pada sapi. Mineral blok juga bemanfaat sebagai bahan enzim,
hormon dan substansi lainnya yang diperlukan dalam proses metabolisme.
Gejala defisiensi pada ternak
sapi dapat dilihat dari :
1. Ternak sering menjilat atau
menggigit bahkan memakan kayu di kandang.
2. Pertumbuhan ternak terhambat
(kerdil) bahkan bisa menyebabkan ternak mati.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penyakit defisiensi mineral disebabkan oleh faktor
kondisi tanah dan jenis tanaman. Pada tanah berpasir yang sangat miskin unsur
mineral, kondisi tanah yang tidak dipupuk, dan ditanami terus-menerus akan
mempengaruhi kandungan mineral tanaman yang tumbuh di tanah tersebut.
Manfaat Mineral Blok
- Mengatasi penyakit defisiensi mineral seperti
penurunana bobot badan, kehilangan nafsu makan, kekurusan, penurunan daya
tahan tubuh, daya produksi, anak yang lahir menjadi lemah.
- Meningkatkan produksi susu, mencegah
kemandulan, keguguran dan kelumpuhan
Bahan-bahan
- Garam dapur/garam kasar (60%)
- Ultra mineral (20%)
- Semen (11%)
- Air secukupnya
Cara Membuat
- Campur garam dapur, ultra mineral dan semen
- Aduk campuran hingga merata
- Tambahkan air sedikit demi sedikit ke dalam
adonan hingga adonan bisa dicetak yaitu ditandai dengan adonan yang tidak
pecah apabila digenggam
- Cetak adukan dengan menggunakan cetakan yang
mudah didapat
- Keringanginkan di ruangan terlindung dari air
hujan
- Setelah kering, mineral blok siap diberikan ke
hewan ternak
Peubah yang diamati dari pembuatan mineral blok
adalah:
1. Kondisi
fisik, yang terdiri dari:
a.
Warna
Pada
praktikum ini warna mineral blok yang didapat adalah warna hijau agak
kehitaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Keenan(2003) warna yang dihasilkan
dari mineral blok disebabkan oleh penambahan molasses dan pigmen warna yang ada
pada daun tersebut.
b.
Bau
Bau
yang dihasilkan oleh mineral blok ini adalah berbau harum/wangi dan juga
sedikit beraroma mollases karena pembuatan mineral blok ini menggunakan
molasses. Hal ini sesuai dengan pendapat Hatmono(2007) yang menyatakan bahwa
molasses mengeluarkan bau/ aroma khas molasses yang harum yang disukai oleh
ternak ruminanasia, molasses digunakan untuk memancing ternak agar menyukai
mineral blok, penggunaan molasses juga sebagai sumber energi bagi ternak
ruminansia.
c.
Tekstur
Tekstur
dari mineral blok ini adalah keras dan padat sehingga sulit dihancurkan. Hal
ini sesuai dengan pendapat Cullison(2000) yang menyatakan bahwa mineral blok
yang padat disebabkan oleh penambahan bahan pemadat yang digunakan untuk
membuat mineral blok menjadi padat. Bahan yang banyak digunakan adalah
Magnesium Oksida(MgO), Bentonit, Kalium Oksida(CaO) dan semen.
2. Sifat Kimia,
Yang terdiri dari :
a. Kadar Air
b. Kadar Abu
c. Kadar Protein
d. Kadar Serat
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemanfaatan limbah
sebagai pakan ternak merupakan suatu alternative bijaksana
dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ternak. Mengingat penyediaan rumput
dan hijauan pakan lainnya sangat terbatas.
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai
pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil
budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas
jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian
(khususnya jerami) harganya murah. Dari sudut pandang pertanian
pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang
biasanya hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi. Adapun teknologi yang
dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah sebagai pakan ternak antara lain yaitu
dengan membuat roti sapi, Mineral Blok dan juga dengan cara Fermentasi.
3.2 Saran
Penulis
sangat menyadari bahwa pembuatan resume ini masih banyak kekurangan maka dari itu penulis mohon kritik dan sarannya
yang bersifat membangun dari semua pihak sangat saya harapkan.
Akhir kata saya memohon kepada Allah SWT agar
saya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang benar yang di ridhoi olehnya.
Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Saran yang
terakhir, mohon kebijaksanaannya dari para Asdos sekalian.