Senin, 08 Februari 2016

Rangkuman Hasil Praktikum TPLP

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam semua usaha peternakan, baik sapi, kambing maupun ternaka unggas. Produktivitas/performans ternak 70% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan 30% oleh faktor genetik. Ini berart walaupun secara genetik ternak memiliki potensi yang bagus akan ttapi lingkungan tidak mendukung maka performans nya tidak maksimal. Dari faktor lingkungan ini pakan paling berpengaruh yaitu mencapai 60%, jadi tidaklah heran jika pakan menjadi hal yang paling diperhatikan dalam pemeliharaan ternak.
Karena besarnya pengaruh pakan terhadap produksi maka biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakanpun tidak bisa dianggap ringan, bahkan biaya pakan ini mencapai 60 - 80% dari total biaya produksi. Oleh karena itu jika usaha ternak kita dapat engemat biaya pakan akan sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas usaha.
Pada usaha ternak sapi dan ternak ruminansia lainnya dimana ketersediaan pakan berupa hijauan mutlak dibutuhkan, dengan adanya perubahan alih fungsi lahan dan perubahan iklim akan membatasi ketersediaan bahan pakan bagi ternak tersebut. Selain itu sering kali berebut lahan hijauan pakan ternak dengan lahan pertanian tanaman pangan atau tanaman pertanian lainnya. 
Untuk itu integrasi dengan usaha pertanian meruppakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan yang berkesinambungan. Optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia. Akan tetapi biasanya limbah pertanian memiliki kualitas yang kurang baik untuk pakan ternak, maka perlu adanya pengolahan terlebih dahulu untuk menngkatkan mutu dari bahan pakan limbah pertanian misalnya dengan amoniasi atau dengan fermentasi.
Secara bahan pakan asal pertanian dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahan limbah pertanian dan bahan limbah agroindustri. Bahan limbah pertanian misalnya jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kedelai, tumpi jagung, tonggkol jagung, kulit kacang tanah, pelepah sawit dll, sedangkan limbah agro industri misalnya dedap padi, ampas tahu, ampas pabrik roti, bungkil kelapa, kedelai afkir dll.
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian (khususnya jerami) harganya murah. Dari  sudut pandang pertanian pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang biasanya hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi.
Untuk mencapai pertumbuhan produksi yang optimal, ternak membutuhkan asupan nutrien yang lengkap dan seimbang. Defisiensi dan ketidakseimbangan nutrien akan menyebabkan gangguan metabolisme, pertumbuhan dan produksi. Karbohidrat, protein dan mineral merupakan nutrien yang berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan produksi ternak. Pemenuhan kebutuhan nutrien tersebut bagi ternak ruminansia umumnya berasal dari rumput alam ataupun limbah pertanian yang rendah kualitasnya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan ternak. Daun ubi kayu dan daun leguminosa pohon seperti lamtoro, gamal, sengon mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput alam karena itu dapat digunakan sebagai komponen penyusun pakan bagi ternak ruminansia.
Ternak ruminansia diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena pakan utamanya adalah tanaman atau tumbuhan. Kambing dan sapi merupakan hewan mamalia karena menyusui anaknya sistem pencernaan yang khas didalam rumen menyebabkan Kambing dan sapi digolongkan sebagai hewan ruminansia. Ternak kambing/domba yang banyak dipelihara di Indonesia adalah domba lokal, domba ekor tipis, domba ekor gemuk, domba priangan, domba merino, dan domba dorset (Sodiq dan Abidin, 2002). Terdapat berbagai bangsa sapi potong yang ada di negara kita yang dapat digunakan sebagai bakalan dalam penggemukan sapi potong, diantaranya sapi Peranakan Ongole (PO) dan Simmental. Sapi PO merupakan persilangan sapi Ongole jantan dan sapi betina Jawa. Sapi PO mempunyai warna kelabu kehitam – hitaman dengan bagian kepala, leher dan lutut berwarna gelap sampai hitam. Bentuk tubuh besar, kepala relatif pendek dan bertanduk pendek (Hardjosubroto, 1994). 
Kartadisastra (1997), menyatakan bahwa ternak ruminansia memilki empat bagian perut yaitu rumen, retikulum, omasum, abomasum fungsi dan peran ketiga rumen perut (rumen, retikulum, omasum) tersebut adalah: alat pencerna mekanis, penghasil bakteri pencerna serat kasar, penghasil protein dan asam amino esensial dan melakukan sisntesis vitamin B. Didalam rumen terkandung berjuta-juta bakteri dan protozoa yang menggunakan campuran pakan dan air sebagai media hidupnya. Bakteri tersebut memproduksi enzim pencerna serat kasar dan protein, serta mensintesis viatamin B yang baru dan akhirnya dicerna oleh induk semang sebagai protein hewani yang dikenal dengan sebutan protein mikroba, hasil pemecahan pakan oleh bakteri yang berupa asam-asam lemak, mineral, air, amonia dan glukosa  langsung diserap melalui dinding rumen.  Pakan ternak ruminansia terdiri dari hijauan sebagai pakan utama dan konsentrat sebagai pakan tambahan. Hijauan diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar atau bahan yang tidak tercerna relatif lebih tinggi dibanding konsentrat. Jenis pakan hijauan ini adalah rumput – rumputan, legume dan jerami, sedangkan konsentrat merupakan pakan yang mengandung kadar energi dan protein tinggi dan mengandung serat kasar yang rendah. Konsentrat dapat berupa biji – bijian dan atau limbah hasil proses industri pengolahan hasil – hasil pertanian (Akoso, 1996). Untuk mencapai produktivitas ternak yang tinggi diperlukan tambahan unsur – unsur mikro seperti mineral dan vitamin. Molasses Block (MB) merupakan salah satu jenis pakan suplemen yang mengandung unsur – unsur mikro tersebut.
Pakan mempunyai peranan yang sangat penting didalam kehidupan ternak. Kita ketahui bahwa biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80%. Keterbatasan pakan menyebabkan daya tampung ternak pada suatu daerah menurun atau dapat menyebabkan gangguan produksi dan reproduksi yang normal. Hal ini antara lain dapat diatasi bila potensi pertanian/industri maupun limbahnya ikut dipertimbangkan dalam usaha peternakan. Asalkan kita tahu secara tepat nilai guna dan daya gunanya serta tahu teknologi yang tepat pula untuk mengelolanya agar lebih bermanfaat.
Wafer merupakan  salah satu bentuk pakan olahan yang dibentuk sedemikian rupa dari bahan konsentrat dan hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan pakan. Wafer pakan merupakan pakan alternatif sebagai pakan cadangan pengganti dari pakan hijauan bagi trnak ruminansia. Banyak pakan alternatif sebagai pengganti hijauan pada musim kering, tetapi wafer sayuran ini merupakan inovasi terbaru dalam pemanfaatan limbah pertanian yang berupa sampah sayur di pasar sebagai pakan ternak kambing, apabila dibiarkan akan mencemari lingkungan maka terdapat ide untuk memanfaatkan sampah menjadi keuntungan yaitu wafer limbah sayuran. kandungan sayur kaya akan serat. Dengan penerapan teknologi  pengolahan pakan seperti pencacahn rumput  dan atau limbah pertanian  yang diolah menjadi wafer dapat meningkatkan kualitas dan palatabilitas serta mempermudah pengangukan . Wafer merupakan salah satu teknologi pengolahan pakan yang efektif dan diharapkan dapat menjaga kontinuitas ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau.
Salah satu sektor yang belum banyak dimanfaatkan adalah limbah pertanian. Limbah pada dasarnya adalah suatu bahan yang tidak dipergunakan kembali dari hasil aktifitas manusia, ataupun proses-proses alam yang belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Dikatakan mempunyai nilai ekonomi yang rendah karena limbah dapat mencemari lingkungan dan penangannya memerlukan biaya yang cukup besar. Pemanfaatan limbah merupakan salah satu alternatif untuk menaikkan nilai ekonomi limbah tersebut.
Salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan adalah tanaman tanaman jagung, dalam bentuk batang, daun, dan janggel jagung. Batang dan daun jagung sudah biasa dimanfaatkan untuk pakan sapi, namun janggel atau tongkol jagung terutama di Kalimantan Selatan belum biasa dimanfaatkan untuk pakan sapi. Janggel hanya dibakar karena merupakan limbah dan mengganggu lingkungan. Tongkol jagung sangat potensial untuk dapat dikembangkan sebagai pakan ruminansia. Namun hasil samping ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pakan. Permasalahan utama penggunaan janggel jagung sebagai pakan sapi adalah tingginya kandungan serat kasar sulit tercerna yang berupa lignin dan silika. Kadar lignin dan silika yang tinggi mengakibatkan kecernaan janggel jagung menjadi rendah dan konsumsinya oleh ternak terbatas. Sehingga perlu dicari teknologi yang dapat meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaannya.
Upaya untuk meningkatkan kualitas nutrisi janggel jagung sebagai pakan ternak ruminansia dengan menggunakan metode fermentasi diharapkan dapat meningkatkan kandungan protein kasar, menurunkan serat kasar serta dapat meningkatkan kecernaannya. Fermentasi yaitu proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologi sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak menjadi lebih efesien. Upaya meningkatkan nilai gizi janggel jagung dapat menggunakan cairan rumen, EM4 dan trichoderma sebagai biodekomposernya.

1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan Resume atau makalah ini adalah untuk mendapatkan gambaran potensi limbah pertanian dan industri pertanian, serta teknologi pengolahannya sebagai bahan pakan alternatif yang layak dan aman bagi ternak dan mampu meningkatkan produk pangan, terutama daging yang dihasilkannya.
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah diperolehnya informasi potensi limbah pertanian dan industri pertanian, serta teknologi pengolahannya sebagai bahan pakan alternatif yang layak dan aman bagi ternak maupun manusia sesuai wilayah, serta meletakkan dasar bagi pengembangan teknologi pengolahan, dan penerapannya. 

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak rumnansia?
2. Teknologi apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah limbah sebagai pakan ternak?


II
PEMBAHASAN
2.1 Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak Ruminansia
Limbah adalah sisa atau hasil ikutan dari produk utama limbah. Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang tersisa setelah dipanen atau diambil hasil utamanya (Sutrisno,2002) dalam Sitorus (2002) dan merupakan pakan alternatif yang digunakan sebagai pakan, khususnya ruminansia (Widiyanto, 1993) dalam Sitorus (2002). Beberapa limbah pertanian yang potensial dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal berturut-turut antara lain jerami padi, jerami jagung, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat dan jerami kacang tanah (Soejono et al., 1988; Van Bruchem dan Sutanto, 1988; Widiyanto, 1993; Pangestu,1995; Widyati et al., 1997) dalam Sitorus (2002) Bahan baku pakan asal pertanian secara umum dapat dikelompokkan menjadi: Limbah pertanian dan limbah agroindustri. Bahan baku pakan yang termasuk limbah pertanian dan agroindustri disajikan pada Table 1 (Agustini, 2010).
Tabel Bahan baku pakan asal limbah pertanian dan agroindustri
No
Limbah Pertanian
Limbah Agroindustri
1
Jerami Padi
Dedak Padi
2
Jerami Jagung
Ampas Tahu
3
Tumpi Jagun
Ampas Pabrik Roti
4
Jerami Kedelai
Bungkil Kelapa
5
Jerami Kacang Tanah
Bungkil Kedelai
6
Jerami Kacang Hijau
7
Jerami Komak
8
Kulit Kacang Tanah
Sumber :  Agustini (2010)

Pada peternak masih rendah karena  rendahnya tingkat pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan disebabkan peternak  membakar limbah (jerami padi/jagung/ ubi jalar) setelah panen dimana limbah ini berfungsi sebagai pupuk organik di samping itu adanya anggapan dari peternak  bahwa hijauan pakan tersedia dalam jumlah yang mencukupi dilahan pekarangan, sawah dan kebun untuk kebutuhan ternak. Penelitian (Syamsu, 2007) dalam Liana & Febrina (2011) menunjukkan hanya 37.88% peternak di Sulawesi Selatan yang menggunakan limbah pertanian sebagai pakan.   Beberapa faktor yang menyebabkan peternak tidak menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan adalah Liana & Febrina (2010) :
a) umumnya petani membakar limbah tanaman pangan terutama jerami padi karena secepatnya akan dilakukan pengolahan tanah,
b) limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak sehingga membutuhkan biaya dalam pengangkutan,
c) tidak tersedianya tempat penyimpanan limbah tanaman pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di sekitar rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran,
d) peternak menganggap bahwa ketersediaan hijauan di lahan pekarangan, kebun, sawah masih mencukupi sebagai pakan ternak. Di sentra-sentra penghasil padi, banyak jerami yang dibuang atau dibakar begitu saja setelah bulir-bulir padi dipanen. Padahal jerami tersebut setelah dikeringkan dan disimpan dengan baik digudang dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan  ternak ruminansia andalan.
Dengan memiliki persediaan jerami padi kering, peternak tak perlu lagi ngarit (mencari rumput) atau membeli hijauan segar untuk pakan sapi (Saswono & Arianto, 2006). Selama ini hampir 50% jerami padi dibakar, abunya dikembalikan ke tanah sebagai kompos dan hanya 35% yang digunakan sebagai pakan ternak. Sistem integrasi ternak dengan tanaman pangan tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah pertanian yang dihasilkan, tetapi juga meningkatkan jumlah dan kualitas pupuk organik yang berasal dari ternak sehingga mampu memperbaiki kesuburan lahan (Maryono, 2010).



2.2 Teknologi Pemanfaatan Limbah Sebagai Pakan Ternak
Ø  Wafer / Roti Sapi
            Manajemen pakan merupakan komponen penting didalam pemeliharaan ternak. Biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80 %. Keterbatasan pakan menyebabkan daya tampung ternak pada suatu daerah menurun serta menyebabkan gangguan produksi dan reproduksi. Solusi permasalahan tersebut yaitu mendayagunakan limbah pertanian/industri dalam usaha peternakan. Ini tidak menjadi suatu yang berlebihan mengingat Indonesia merupakan negara agraris. Asalkan kita tahu secara tepat nilai guna dan daya gunanya serta tahu teknologi yang tepat pula untuk mengelolanya.
Kendala utama dari pemanfaatan rumput dan atau limbah pertanian antara lain adalah pengangkutan, karena pada umumnya rumput atau limbah pertanian membutuhkan tempat yang luas untuk setiap satuan beratnya. Dengan penerapan teknologi pengolahan pakan seperti pencacahan rumput dan atau limbah pertanian yang diolah menjadi Roti /Wafer untuk ternak dapat meningkatkan kualitas dan palatabilitas serta mempermudah pengangkutan.
Wafer merupakan salah satu bentuk pakan olahan yang dibentuk sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan pakan. Wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak yang merupakan modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu (Noviagama, 2002). Teknologi CCFB sangat potensial untuk usaha efisiensi limbah pertanian dan peningkatan daya guna hasil samping agroindustri termasuk sisa pengolahan  dengan biaya rendah dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ruminansia saat mengalami kekurangan pakan yang terjadi akibat banjir dan musim kemarau (Noviagama, 2002). Stevent (1981) dan Coleman and Lawrence (2000) menjelaskan keuntungan pakan olahan adalah:
a. Meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan,
b. Mengurangi tempat penyimpanan,
c. Menekan biaya transportasi,
d. Memudahkan penanganan dan penyajian pakan,
e. Densitas yang tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer,
f. Mencegah “de-mixing” yaitu peruraian kembali komponen penyusun pakan sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar,
g. Memudahkan untuk mengontrol, memonitor, dan mengatur “feed intake” ternak,
h. Kandungan nutrient yang konsisten dan terjamin,Mengurangi debu dan masalah pernafasan pada ternak.
Coleman and Lawrence (2000) menambahkan bahwa kelemahan dari pakan olahan dalam hal ini wafer antara lain adalah:
a. Pemberian kepada ternak harus disesuaikan dengan kebutuhan agar ternak tidak mengalami kelebihan berat badan maupun gangguan pencernaan;
b.Gudang penyimpanan wafer memerlukan area dan penanganan khusus untuk menghindari kelembaban udara;
c. Pengolahan bahan pakan menjadi wafer membutuhkan biaya tambahan yang akan mempengaruhi biaya produksi.
Roti Sapi (Wafer) merupakan salah satu teknologi pengolahan pakan yang efektif dan diharapkan dapat menjaga kontinuitas ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau.
·         Bahan-bahan
1. Hijauan dan atau limbah pertanian : 40 %
2. Leguminosa : 10%
3. Konsentrat : 40%
4. Bahan perekat : 10%.
Keterangan :
Salah satu contoh konsentrat yang dapat dipakai terdiri dari :
1. Dedak padi (bekatul) : 27,50%
2. Jagung giling halus : 52,50%
3. Bungkil Kelapa : 18,75%
4. Garam dapur : 1,25%
Peralatan yang diperlukan
1. Pemotong rumput : sabit, chooper
2. Alat Pengepres
3. Alat pemanas
4. Cetakan dengan ukuran (35x35x1,5) cm
·         Cara Pembuatan Roti sapi (wafer)
1. Rumput dan limbah pertanian dicacah, dengan ukuran 3-5 cm. Tujuannya untuk mempercepat proses pengeringan serta memudahkan dalam pencampuran dengan bahan perekat.
2. Rumput dan limbah pertanian yang sudah dicacah dan leguminosa dikeringkan dibawah sinar matahari (+ 24 jam).
3. Leguminosa yang sudah kering kemudian digiling
4. Rumput dan atau limbah pewrtanian yang sudah kering dicampur dengan bahan perekat sampai rata, kemudian ditambahkan leguminosa yang telah digiling dan konsentrat dan diaduk sampai homogeny.
5. Campuran yang sudah homogen dimasukkan kedalam cetakan (mall) yang telah dipanaskan untuk dipadatkan.
6. Kemudian dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan selama + 24 jam pada suhu kamar.
Kualitas roti sapi (Wafer) tergantung dari bentuk fisik, tekstur, warna, aroma dan kerapatan :
1. Bentuk fisik Roti sapi (Wafer) yang terbentuk padat dan kompak sangat menguntungkan, karena mempermudah dalaam penyimpanan dan penanganan
2. Tekstur Tekstur menentukan mudah tidaknya menjadi lunak dan mempertahankan bentuk fisik serta kerenyahan
3. Warna Hasil reaksi karbohidrat, khususnya gula pereduksi dengan gugus amino primer menyebabkan roti sapi berwarna coklat.
4.  Aroma Hasil reaksi maillard mengeluarkan baud an aroma khas karamel.
5. Kerapatan semakin tinggi kerapatannya roti sapi akan semakin baik, kaena pertambahan airnya semakin rendah.
Ø  Fermentasi
Fermentasi merupakan proses pembiakan protein sel tunggal. Protein sel tunggal yang biasa di pakai adalah yang di produksi dengan media kultur cair missal : kefir, yoghurt, asam cuka. Sedang protein sel tunggal media subtract padat missal : oncom, tempe, tempe, kecap.
Tujuan awal fermentasi untuk meningkatkan nilai tercernak pakan, sehingga penyerapan nilai nutrisi pakan lebih optimal, yang pada akhirnya seharusnya produktivitas akan meningkat.
RAGI
Atau ada juga yang menyebutnya Laru, bibit atau biang jamur/kapang yang dipergunakan dalam fermentasi. Ragi tempe mengandung kapang Rhizopus orizae, yang pada pertumbuhannya mampu memecah susunan kimia protein komplek menjadi sederhana sehingga mudah di cerna.
Macam ragi yang biasa di gunakan, Rhizopus spec, Rhizopus oligosporus, Rhizopus ,champydosporus, Aspergillus niger, ragi tape atau mikro organism lain seperti EM 4, fermetan jerami atau yang lainnya lagi, karena sekarang banyak banget merk keluaran pabrik yang telah dijual bebas.
UREA
Urea di sini yang di maksudkan adalah urea yang sering di pakai buat pupuk tananman . Yang mana kandungannya 46 % adalah Nitrogen. Kenapa di pakai, untuk menjadi bom protein, bersama-sama dengan sisa subtract mineral, nitrogen urea dan sel-sel mikroba, beserta perombakan pati, meningkatkan nilai prosentase protein yang di namakan Protein Enrichment.
Yang perlu di perhatikan di sini, kebutuhan protein bangsa Unggas ayam dan ternak itik adalah protein yang berupa Asam Amino, kesepuluh asam amino komplit. Ini artinya penggunaan urea hanya di khususkan untuk hewan Ruminansia sapi, kerbau, kambing, domba. Yang mana dalam ke empat organ pencernakan banyak mengandung jutaan mikro organism yang membantu proses penyerapan nutrisi pakan.
Beberapa simulasi pembuatan Fermentasi bahan pakan sbb:
Adapun proses pembuatan Fermentasi adalah sbb.
1.      Bahan yang akan di Fermentasi di kukus atau di uap, tujuannya adalah supaya bahan bahan tsb. Bebas dari kuman atau matang
2.      Setelah di kukus didinginkan barulah di campur dengan air + ragi tape jerami disesuaikan dengan type yang sesuai.
3.      Dalam Fermentasi nya bisa di tambahkan bahan bahan antara lain : urea, tetes atau gula cair.
Type atau jenis Fermentasi di sesuaikan dengan penggunaannya untuk bebek lebih baik type basah, ayam dan kambing atau sapi semi kering atau kering.
1. Basah
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur dengan air 7-8 liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5 cc, setelah itu diaduk rata bahan siap di Fermentasi di ruangan tertutup selama 2-5 hari. Setelah Fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di berikan untuk ternak.
2.Semi kering
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur dengan air 5-6  liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5 cc, setelah itu diaduk rata bahan siap di fermentasi di ruangan tertutup selama 2-5 hari. setelah fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di berikan untuk ternak.
3. Kering
Yaitu setiap 10 kg bahan di campur dengan air 3-4 liter air yang sudah di campur dengan ragi tape jerami 5 cc, setelah itu diaduk rata bahan siap di Fermentasi di ruangan tertutup selama 2-5 hari. Setelah Fermentasi selesai bahan di angin aginkan dan siap untuk di berikan untuk ternak.
Kapang Trichoderma Viride
Enzim yang dapat menghidrolisis selulosa adalah selulase. Produksi selulase secara komersial biasanya menggunakan kapang atau bakteri. Kapang yang bisa menghasilkan selulase adalah Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan lain-lain. Bakteri yang bisa menghasilkan selulase adalah Pseudomonas, Cellulomonas, dan Bacillus. Diantara beberapa jenis kapang dan bakteri yang bisa menghasilkan selulase, yang potensial untuk dikembangkan dalam pembuatan enzim selulase salah satunya adalah kapang Trichoderma viride.
Trichoderma viride adalah kapang berfilamen yang sangat dikenal sebagai organisme selulolitik dan menghasilkan enzim-enzim selullolitik, termasuk enzim selobiohidrolase, endoglukanase dan ß-glukosidase. Kelebihan dari Trichoderma viride selain menghasilkan enzim selulolitik yang lengkap, juga menghasilkan enzim xyloglukanolitik. Keberadaan enzim ini akan semakin mempermudah enzim selulolitik dalam memecah selulosa (Gunam et al. 2010).
Trichoderma viridae merupakan kapang saprophyt yang banyak dimanfaatkan untuk proses fermentasi, karena kapang ini dapat menghasilkan enzim selulase kompleks. Enzim tersebut mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa total selulase murni yang tidak dapat larut menjadi glukosa. Penguraian selulosa menjadi glukosa akan meningkatkan populasi mikroba terutama yang bersifat selulolitik (Aisjah, 2011).
Untuk keperluan fermentasi, Trichoderma bisa aktivasi dengan menggunakan media air steril, yang dimasukkan ke dalamnya gula pasir (1% dari volume air), urea (1%) dan NPK (0.5% dari berat air), lalu dilarutkan. Ke dalam larutan tersebut dimasukkan bibit kapang Tricoderma sebanyak 1% dari volume air. Lalu larutan diaerasi menggunakan aerator selama 35-48 jam.
Pada praktikum teknologi pemanfaatan limbah yang telah dilakukan, larutan Trichoderma virede tersebut kemudian dijadikan inokulan dalam fermentasi pada tongkol jagung, kulit jagung dan juga kulit kakao atau coklat. Sebelum difermentasi, masing-masing bahan tongkol jagung, kulit jagung dan juga kulit kakao mendapatkan dua perlakuan yaitu cacah yan giling , untuk memperkecil bentuknya dan kemudian dikeringkan. Melalui teknik fermentasi, akan dapat meningkatkan kandungan protein dan energi bahan, sehingga akan lebih mudah dicerna oleh ternak (Guntoro, 2009).
Fermentasi dilakukan dalam kantong plastik. Langkah-langkah proses fermentasi yaitu mencacah tongkol jagung, kulit jagung dan kulit kakao menggunakan chooper hingga kecil-kecil, kemudian bahan-bahan tersebut ditimbang sebanyak 100 gr per unit percobaan. Kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik yang tahan panas dan dimasukkan ke dalam Autoclave selama 15 menit bersuhu 121 derajat celcius yang bertujuan untuk membunuh dan mensterilkan media dari mikroba ataupun bakteri yang ada pada media yang akan diinokulasikan. Setelah dingin media siap diinokulasikan dengan dua cuplikan kapang trichoderma viride, dan ditutup rapat dengan menggunakan kapas dan plester, terakhir media yang sudah diinokulasikan dimasukkan kedalam inkubator
Ø  Mineral Blok
Mineral blok merupakan sumber mineral untuk pertumbuhan tulang, gigi, dan jaringan otot serta reproduksi pada sapi. Mineral blok juga bemanfaat sebagai bahan enzim, hormon dan substansi lainnya yang diperlukan dalam proses metabolisme.
Gejala defisiensi pada ternak sapi dapat dilihat dari :
1. Ternak sering menjilat atau menggigit bahkan memakan kayu di kandang.
2. Pertumbuhan ternak terhambat (kerdil) bahkan bisa menyebabkan ternak mati.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit defisiensi mineral disebabkan oleh faktor kondisi tanah dan jenis tanaman. Pada tanah berpasir yang sangat miskin unsur mineral, kondisi tanah yang tidak dipupuk, dan ditanami terus-menerus akan mempengaruhi kandungan mineral tanaman yang tumbuh di tanah tersebut.
Manfaat Mineral Blok
  1. Mengatasi penyakit defisiensi mineral seperti penurunana bobot badan, kehilangan nafsu makan, kekurusan, penurunan daya tahan tubuh, daya produksi, anak yang lahir menjadi lemah.
  2. Meningkatkan produksi susu, mencegah kemandulan, keguguran dan kelumpuhan
Bahan-bahan
  1. Garam dapur/garam kasar (60%)
  2. Ultra mineral (20%)
  3. Semen (11%)
  4. Air secukupnya
Cara Membuat
  1. Campur garam dapur, ultra mineral dan semen
  2. Aduk campuran hingga merata
  3. Tambahkan air sedikit demi sedikit ke dalam adonan hingga adonan bisa dicetak yaitu ditandai dengan adonan yang tidak pecah apabila digenggam
  4. Cetak adukan dengan menggunakan cetakan yang mudah didapat
  5. Keringanginkan di ruangan terlindung dari air hujan
  6. Setelah kering, mineral blok siap diberikan ke hewan ternak
Peubah yang diamati dari pembuatan mineral blok adalah:
1. Kondisi fisik, yang terdiri dari:
a.              Warna
Pada praktikum ini warna mineral blok yang didapat adalah warna hijau agak kehitaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Keenan(2003) warna yang dihasilkan dari mineral blok disebabkan oleh penambahan molasses dan pigmen warna yang ada pada daun tersebut.
b.             Bau
Bau yang dihasilkan oleh mineral blok ini adalah berbau harum/wangi dan juga sedikit beraroma mollases karena pembuatan mineral blok ini menggunakan molasses. Hal ini sesuai dengan pendapat Hatmono(2007) yang menyatakan bahwa molasses mengeluarkan bau/ aroma khas molasses yang harum yang disukai oleh ternak ruminanasia, molasses digunakan untuk memancing ternak agar menyukai mineral blok, penggunaan molasses juga sebagai sumber energi bagi ternak ruminansia.
c.              Tekstur
Tekstur dari mineral blok ini adalah keras dan padat sehingga sulit dihancurkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Cullison(2000) yang menyatakan bahwa mineral blok yang padat disebabkan oleh penambahan bahan pemadat yang digunakan untuk membuat mineral blok menjadi padat. Bahan yang banyak digunakan adalah Magnesium Oksida(MgO), Bentonit, Kalium Oksida(CaO) dan semen.
2. Sifat Kimia, Yang terdiri dari :
a.         Kadar Air
b.         Kadar Abu
c.         Kadar Protein
d.         Kadar Serat
 
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemanfaatan limbah sebagai pakan ternak merupakan suatu alternative bijaksana dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ternak. Mengingat penyediaan rumput dan hijauan pakan lainnya sangat terbatas.
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian (khususnya jerami) harganya murah. Dari  sudut pandang pertanian pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang biasanya hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi. Adapun teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah sebagai pakan ternak antara lain yaitu dengan membuat roti sapi, Mineral Blok dan juga dengan cara Fermentasi.

3.2 Saran
Penulis sangat menyadari bahwa pembuatan resume ini masih banyak kekurangan maka dari itu penulis mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun dari semua pihak sangat saya harapkan.
Akhir kata saya memohon kepada Allah SWT agar saya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang benar yang di ridhoi olehnya. Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Saran yang terakhir, mohon kebijaksanaannya dari para Asdos sekalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar