Sabtu, 14 Mei 2016

Laporan Semester Praktikum Teknologi Hasil Ternak E10014007



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pangan merupakan materi yang mudah rusak (perishable).  Dengan sifat yang mudah rusak, maka bahan pangan mempunyai masa simpan yang terbatas.  Bermacam-macam teknik pengawetan dan pengolahan bahan pangan dilakukan untuk memperpanjang marketable life komoditas hasil pertanian di antaranya pengeringan, pembekuan, penggunaan bahan kimia dan iradiasi. Tujuan pengawetan pangan adalah untuk menghambat atau mencegah terjadinya kerusakan pangan, mempertahankan kualitas bahan, menghindarkan terjadinya keracunan dan mempermudah penanganan serta penyimpanan.  Bahan pangan yang awet mempunyai nilai yang lebih tinggi karena terjadinya kerusakan dapat diperkecil.  Namun demikian metode pengawetan tidak selalu dapat mempertahankan kualitas asal bahan pangan atau kandungan gizi dari komoditas yang diawetkan.
Telur merupakan salah satu hasil ternak yang dihasilkan dari unggas, telur sebenarnya dihasilkan sebagai makhluk hidup baru sebagai generasi penerus bagi ternak unggas, oleh karena itu telur mempunyai komposisi zat makanan yang lengkap dan seimbang bagi pertumbuhan dan perkembangan bakal makhluk didalam telur. Kesempurnaan dan keseimbangan zat makanan ini juga diperlukan bagi makhluk hidup selain unggas, termasuk manusia. Telur mempunyai struktur fisik bagian luar berupa kerabang dan selaput kerabang. Struktur ini selain berperan melindungi telur dari rekanan fisik dari luar, juga berperan sebagai pelindungbagi penetrasi mikroorganisme dari luardan penghalang bagi penguapan karbodioksida dan uap airdari dalam.
            Secara alamiah telur mempunyai daya simpan yang relative lama(2-3 minggu), selain karena struktur fisik, telur juga mempunyai pengawet alami yang cukup potensial untuk melindungi dari kerusakan microbial. Pengawet alami yang ada pada bagian internal telur terutama bagian putih telur (albumen) mempunyai kemampuan sebagai inhibitor (penghambat) bagi pertumbuhan mikroorganisme, sehingga telur tidak cepat mengalami kerusakan/penurunan kualitas.
Pengasinan (curing) daging merupakan salah satu cara pengawetan daging dengan melakukan pemberian bahan-bahan preservatif seperti garam (NaCl), Na-nitrat, Na-nitrit, dan bahan lain yang dapat menambah cita rasa. Curing memiliki tiga tujuan utama, yaitu pengawetan (preservation), rasa (flavor) dan warna (color). Curing daging membutuhkan garam yang merupakan bahan pengawet pangan pertama digunakan manusia. Garam telah menjadi bahan penting dalam pengawetan produk-produk peternakan dan perikanan. Pada tingkat tertentu, garam mencegah pertumbuhan beberapa tipe bakteri yang bertanggung jawab dalam pembusukan daging. Garam dapat mencegah pertumbuhan bakteri, baik yang disebabkan oleh efek penghambat langsung dari bakteri maupun oleh efek pengeringan yang dimiliki bakteri dalam daging.
Nitrit dan nitrat merupakan bahan tambahan yang dapat memperbaiki warna dan rasa daging pada proses curing. Selain itu, nitrit pun dapat mencegah pertumbuhan clostridium botulinum yang bersifat racun bila dikonsumsi manusia sehingga menyebabkan botulisme. Nitrit dapat berubah menjadi nitrit oksida yang akan bergabung dengan myoglobin (Mb). Myoglobin merupakan pigmen yang menentukan warna merah alami pada daging yang tidak diasin. Setelah itu nitrit oksida dan myoglobin berubah menjadi nitrit oksida myoglobin (NOMb). Nitrit yang digunakan dalam pengasinan daging ini telah diproduksi secara komersial dengan nama sodium nitrite.
Proses curing membutuhkan garam dalam konsentrasi tertentu untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Jumlah garam yang ditambahkan dalam daging sangat bergantung pada kondisi lingkungan seperti temperatur dan tingkat keasaman (pH). Kondisi tersebut akan mempengaruhi keefektifan fungsi garam sehingga tidak ada batasan pasti yang menentukan konsentrasi garam dalam proses curing. Prosedur yang digunakan dalam proses curing daging terdiri dari 1) Metode pengasinan kering, dilakukan proses yang bersifat tradisional karena merupakan metode pengasinan yang telah berusia tua. 2) Metode pengasinan basah lazim dinamakan dengan pengasinan tangki. Metode ini memiliki kemudahan dalam pengawasan dan mempunyai risiko kerusakan yang lebih kecil. Angka kehilangan berat akan lebih sedikit dalam pengasinan basah ini.
Daging yang telah diasinkan kemudian dapat disimpan selama beberapa hari dalam suhu rendah untuk memberi waktu kepada bahan pengasin agar terdistribusi sempurna. Bahan-bahan pengasinan dapat dimasukkan ke dalam daging dengan tiga alternatif lain, yaitu dengan suntikan jarum, suntikan arteri, dan pompa setik. Di negara-negara maju, proses pengasinan sangat mudah dilakukan oleh siapa saja karena semua bahan, alat dan tempat untuk proses pengasinan tersebut dapat diperoleh dalam satu produk yang terjual secara komersial.
Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah.
Penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Beberapa jenis bahan pangan seperti halnya susu dan kapri serta daging, sangat peka terhadap susu tinggi karena dapat merusak warna maupun rasanya. Sebaliknya, komoditi lain misalnya jagung dan kedelai dapat menerima panas yang hebat karena tanpa banyak mengalami perubahan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan. Pada proses pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk, sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya dengan bahan pengawet. Proses pengawetan dapat di kelompokan menjadi 3 yaitu: pasteurisasi, pemanasan pada 1000 C dan pemanasan di atas 1000 C.
Fermentasi bukan hanya berfungsi sebagai pengawet sumber makanan, tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan. Salah satumya fermentasi dengan menggunakan bakteri laktat pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5.0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri fekal yaitu sejenis bakteri yang jika dikonsumsi akan menyebabkanakan muntah-muntah, diare, atau muntaber. Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lacobacillus acidophilus, L fermentum, L brevis,dll. Asam laktat yang dihasilkan bakteri dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman. Namun, selama proses fermentasi sejumlah vitamin juga di hasilnhkan khususnya B-12. Bakteri laktat juga menghasilkan lactobacillin (laktobasilin), yaitu sejenis antibiotika serta senyawa lain yang berkemampuan menontaktifkan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri fekal di dalam tubuh manusia dan bahkan mematikannya , Senyawa lain dari bakteri laktat adalah NI (not yet identified atau belum diketahui). NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi 3-metil glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD. Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol dan kanker akan terhambat.
Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari. Yang paling terkenal tentu saja adalah asinan sayuran dan buah-buahan. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu ikan awetan dengan cara fermentasi bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas penggunaannya. (F:\Suara Merdeka Edisi Cetak.mht).
Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah.
Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energi panas. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah. Kecuali itu, banyak bahan-bahan yang hanya dapat di pakai apabila telah di keringkan, misalnya tembakau, kopi, the, dan biji-bijian. Di samping keuntungan-keuntunganya, pengeringan juga mempunyai beberapa kerugian yaitu karena sifat asal bahan yang di keringkan dapat berubah, misalnya bentuknya, misalnya bentuknya, sifat-sifat fisik dan kimianya, penurunan mutu dan sebagainya. Kerugian yang lainya juga disebabkan beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum di pakai, misalnya harus di basahkan kembali (rehidratasi) sebelum di gunakan. Agar pengeringan dapat berlangsung, harus di berikan energi panas pada bahan yang di keringkan, dan di perlukan aliran udara untuk mengalirkan uap air yang terbentuk keluar dari daerah pengeringan. Penyedotan uap air ini daoat juga di lakukan secara vakum. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan terjadi pada setiap tempat dari bahan tersebut, dan uap air yang di ambil berasal dari semua permukaan bahan tersebut. Factor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan benda, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di udara, dan waktu pengeringan.

1.2 Tujuan
            Adapun tujuan daripada praktikum Teknologi Hasil Ternak ini  adalah untuk mengetahui kemampuan pengawet alami yang ada pada telur, untuk mengetahui penyebab kerusakan pada telur, untuk mengetahui daya simpan telur pada keadaan mentah dan setelah diolah, untuk mengetahui peran garam dalam pengawetan telur, untuk mengetahui cara pengawetan dengan penggaraman basah dan penggaraman kering, untuk mengetahui perbedaan kualitas telur dengan penggaraman basah dan penggaraman kering, untuk mengetaahui peran dan fungsi kemasan dalam mempertahankan kualitas bahan pangan, untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada daging yang didinginkan dengan menggunakan kemasan dan tanpa kemasan, untuk mengetahui peran dan fungsi kemasan dalam mempertahankan kualitas, untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada produk yang disimpan dalam kemasan dengan produk tanpa kemasan, untuk mengetahui daya tahan simpan produk, untuk melihat perubahan warna produk, untuk melihat perubahan warna produk, untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada susu yang difermentasi selama 12-14 jam pada suhu kamar, untuk mengetahui dripp daging setelah pembekuan, untuk mengetahui driip dari berbagai irisan atau bagian karkas ayam, untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah driip yang dikeluarkan dari daging setelah pembekuan, untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan proses pengeringan, untuk mengetahui cara mengukur kadar air pangan atau bahan pangan, dan untuk mengetahui kadar air dengan deteksi infrared digital moisture balance.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat daripada praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui berbagai proses ataupun tindakan dalam memperpanjang umur simpan dari suatu produk pangan, dapat mengetahui cara pengawetan bahan pangan, dapat mengevaluasi proses pengolahan bahan pangan ternak, serta praktikan dapat menerapkan tindakan praktikum dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat mengetahui kualitas yang unggul dari setiap proses pengolahan hasil ternak tersebut.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Adinan (2005) yang menyatakan bahwa pada suhu dibawah 0oc air akan membeku dan terpisah dari larutan dan membentuk es, yang mirip dengan air yang diuapkan pada proses pengeringan atau selama penurunan Aw.
Adnan, M (2002), yang menyatakan bahwa pada telur yang sudah pecah akan mudah atau cepat mengalami kerusakan, karena akibat mikroorganisme yang ada didalam telur tersebut akan cepat tumbuh dan berkembang, sehingga telur tersebut akan rusak atau sudah berbau amis bahkan akan berbau busuk. bahwa pH, protein yang kental dan suhu tempat penyimpanan berperan sebagai mempengaruhi kerusakan dari pada telur.
Adnan (2002) dengan tahap pendinginan sangat brpengaruh terhadap makanan yaitu : penurunan kimia mikrobiologi dan biokimia yang berhubungan dengan kelayuan, kerusakan dan pembusukan pada suhu dibawah 0oc terjadi penurunan Aw.
Anonim , (2007), yang mengatakan bahwa kualitas telur ditentukan oleh dua faktor yaitu kulit luar meliputi ; kulit cangkang, bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit, sedangkan yang kedua faktor dalam telur meliputi  kekentalan telur bagian putihnya, warna serta posisi dari pada kuning telur dan ada atau tidaknya terdapat noda pada putih dan bagian kuning telur.
Brody, (2000) Menyatakan bahwa Perubahan yang terjadi merupakan suatu kerusakan. Meskipun demikian, sebagian bahan pangan mungkin terjadi matang atau tua setelah dikemas dan memang ada perbaikan dalam waktu singkat tetapi kemudian diikuti oleh kerusakan.
Buckle (2004) yang menyatakan bahwa pengemasan sangat dibutuhkan untuk daya simpan yang cukup lama, cara yang dijelaskan diatas disebut pengemasan dengan pendinginan.
Buckle, (2004), yang menyatakan bahwa untuk mempengaruhi tingkat kadar air yang perlu untuk mempunyai rasio permukaan volume yang tinggi dalam daging oleh karena itu digunakan daging yang sudah dipotong-potong halus.

Buckle (2005) yang menyatakan bahwa fermentasi oleh bakteri akan menghasilkan asam. Produk yang difermentasikan lebih bagus dibandingkan dengan produk yang tidak difermentasi
Davis (2002), yang menyatakan bahwa apabila suhu penyimpanan yang cukup rendah dan perubahan kimiawi selama pembekuan dan penyimpanan beku dapat dipertahankan sampai batas minimum, maka mutu makanan beku dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang cukup lama.
Elvina (2006) menyatakan bahwa dendng sapi dapat tahan lam maka harus disimpan dalam kondisi rapat-rapat dan tidak lemah. Dengan hasil yang didapat dalam penentuan kadar air bahwa dendeng yang dikeringkan dalam oven selama 72 jam dngan suhu 40oc lebih tinggi dari pada dendeng yang dikeringkan dalam oven selama 36 jam dengan suhu 60oc.
Frazieri (2007) sependapat dengan hal ini karena dia menyatakan bahwa mikroorganisme yang terdapat dalam daging tersebut, apalagi mikroorganisme yang merugikan, dan khamir, jamur serta bakteri yang dapat merugikan dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya.
Gaman (2006) yang menyatakan bahwa bakteri Lactobacillus casei dalam proses fermentasi yaitu menekan pertumbuhan bakteri pathogen,sehingga produk akan tahan lama, membantu proses pencernaandalam tubuh dan akan menghasilkan rasa asampada produk.
Hadiwiyoto (2003), yang menyatakan bahwa penyimpanan bahan makanan yang cukup lama selama suhu 60 oc dan 40 oc akan menyebabkan daging dehidrasi dalam pengeringan, daging merupakan bahan pangan yang sangat mudah rusak, karena daging memiliki senyawa biologis yang masih aktif.
Hardjowigeno.S (2000) yang menyatakan bahwa susu yang dicampurkan dengan yoghurt dan yakult maka akan mengeluarkan atau menghasilkan aroma khas susu.
Keaginan (2004), yang menyatakan bahwa kualitas daging pada saat dipotong dan dibiarkan dalam kadaan terbuka maka dalam keadaan waktu yang singkat pula mikroorganisme akan merusaknya, hal ini disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan dan cara penyimpanan daging ini juga sangat mempengaruhi. Sebab perlakuan yang salah akan mngabaikan kebersihan dan membuat daya simpan daging menjadi relative singkat.
Kemas (2009) menyatakan bahwa pada saat produk dicairkan kembali tidak semua air dari kristal akan diserap kembali oleh bahan pangan yang diawetkan maka air yang diserap akan keluar.
Lawrance dan Resister (2005) menyatakan bahwa susu akan berubah kental atau menggumpal dan keruh disebabkan karma adanya aktivitas bakteri, sehingga dapat mnyebabkan perubahan warna susu, misalnya menyebabkan susu kental menjadi kuning-kekuningan.
Lawrie (2007) yang menyatakan bahwa pada ruangan terbuka bahan akan mengalami perubahan yang berupa adanya penguapan yang dapat menyebabkan kekeringan pada bahan tersebut.
Mazarnis (2002) menyatakan bahwa factor utama yang mempengaruhi proses pengeringan adalah secara fisik dan kimiawi, pengaturan geometri produk sifat dari lingkungan alat pngeringan dan suhu pengeringan.
Moctadi (2007) yang menyatakan bahwa nilai gizi protein yang tinggi pada daging dapat dipertahankan tanpa menimbulkan pengaruh atas keasaman untuk dikonsumsi.
Purnomo, 2004), yang menyatakan bahwa air bebas dengan mudah hilang bila terjadi pengeringan dan penguapan, sedangkan air terikat sulit dibebaskan denga cara tersebut.
            Rasyaf , M  (2007), yang mengatakan bahwa kerabang telur berfungsi melindungi telur dari tekanan fisik dari luar, dan sebagai penetrasi mikroorganisme dari luar yang dapat menyebabkan kerusakan, dan penghalang penguapan  CO2 dan H2O.
Saputan (2000) dengan hasil yang sudah didapat kemarin, bahwa kadar air pada dendeng sapi yang digiling lebih tinggi dari dendeng sapi yang diiris, hal ini karena perlakuan fisik dalam pembuatan daging giling menyebabkan air lepas sekaligus dari proses kering penyerapan bahan kering lebih tinggi disbanding daging iris.
Saraswati (2004) menyatakan bahwa ada beberapa contoh pengawetan daging, dan 2 cara ini merupakan pengawetan dengan penggunaan suhu tinggi.
Soeparno, (2006) yang menyatakan bahwa produk produk telur secara tradisional minsalnya diasinkan mempunyai mutu mikrobiologi yang berbeda dengan produk olhan lainnya.
Sutiyoso saputra (2000) yang menyatakan bakteri yang menyebabkan keasaman dan tumbuhnya gas-gas tertentu didalam susu keasaman yang terjadi adalah yang mengakibatkan pengumpulan protein.
Winarno (2000) yang menyatakan bahwa kadar air berkisar 60-70% dan apabila daging tidak mempunyai kadar air terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu kisarannya 15-50% maka daging tersebut dapat tahan lama selama penyimpanan.
Winarno, (2003), yang menyatakan bahwa daging memiliki komposisi yang terdiri dari 75 5 air, 18 % protein, 4 % protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3 5 lemak. Diperoleh hasil kadar air pada percobaan ini adalah tetap normal. Kemungkinan dalam perlakuan terhadap daging saat dimasukan ke atas aluminium toil adalah kurang dari yang ditetapkan sebanyak 1,522 gr, inilah sebabnya didapat hasil kadar airnya kurang dari 75 %.
Winston, (2003), yang menyatakan bahwa didalam memberikan nilai hedonik untuk pengawetan dengan penggaraman ini bernilai cukup baik apabila nilai hedoniknya mendapat nilai suka dan biasa dan tidak ada pernyataan tidak suka.



BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
            Adapun pelaksanaan praktikum Teknologi Hasil Ternak ini dilaksanakan setiap hari jumat yang dimulai pada 8 April sampai dengan 29 April 2016. Praktikum tersebut dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum dilaksanakan yang bertempat di laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jambi.
3.2 Materi dan Peralatan
            Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum Teknologi Hasil Ternak ini adalah telur ayam ras, minyak goreng, telur itik 5 butir, garam halus 60 gram, kapur sirih, air matang yang telah dingin, serbuk batu bata 30 gram, abu gosok, daging, kemasan plastik poli etilen, susu pasteurisasi, daging sapi atau kerbau, gula pasir, air, sodium nitrat, susu segar, bakteri starter lactobacillus casei ataupun yakult yang sudah jadi, susu bubuk 2 sendok, sirup, daging ayam, daging ayam 300 gram, bawang putih 6 gram, ketumbar 9 gram, gula merah 90 gram, garam 9 gram, asam jawa 3 gram, daging ayam 1-2 gram, tissue dan sabun.
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah piring, penggorengan, amplas, sabut, stoples atau ember, ember plastik, pisau, refrigerator, sealer (perekat plastik), gelas atau botol, panci, kompor, timbangan, toples (botol), panci email, alat pengaduk, freezer, telenan, termometer, plastik, timbangan ohaus, food processor, baskom, daun pisang, oven, botol kecil 3 buah, eksikator, peralatan infrared digital moisture balance.

3.3 Metoda
Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum ini adalah siapkan 3 butir telur dan bersihkan dari kotoran yang ada pada permukaan kerabang,masing-masing telur diberi tanda sesuai dengan perlakuan yaikni: T-1= biarkan telur dalam keadaan utuh dan mentah, T-2= pecahkan telur dan letakkan dalam piring, T-3= rebus telur sampai masak (10 menit), kemudian kupas dan letakkan dalam piring, T-4= goreng telur menjadi telur mata sapi dan letakkan dalam piring, kemudian letakkan semua perlakuan telur diatas dalam ruangan dengan kondisi suhu dan kelembapan kamar, amati semua perlakuan tersebut sehari 2 kali selama 5 hari. Simpulkan hasil pengamatan alam laporan saudara.
Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum Pengawetan dengan Penggaraman adalah Pertama pada pembuatan telur asin dengan media cair yaitu cuci telur dan gosok dengan sabut yang kemudian dilap dengan kain kering, amplas kerabang telur agar penetrasi garam lebih mudah dan lap dengan kain, rendam dalam larutan garam ( air : garam = 1 : 3 ), tambahkan sedikit kapur, kemudian disimpan dalam ember yand ditutup selama 8 – 10 hari dan terakhir direbus. Sedangkan pembuatan telur asin dengan pembalutan adalah telur dibersihkan, kemudian buat campuran antara garam halus, serbuk batu bata dan abu gosok dengan perbandingan 4 : 3 : 3, campuran tersebut dibuat menjadi pasta dengan menambah larutan teh, telur di bungkus dengan pasta tadi, simpan pada ember dan ditutup rampat selama 8 – 10 hari, kemudian rebus hingga masak dan bandingkan hasilnya dengan cara basah, amati perlakuan dan simpulkan hasil pengamatan dalam laporan saudara.
Adapun cara kerja yang dilakukan dalam praktikum Pengawetan dengan Pengemasan tersebut yaitu Pengemasan dengan pendinginan yaitu, menyiapkan daging sapi dua potong dengan ukuran 5 x 10 cm, daging disimpan dalam refrigerator pada suhu rendah ( 1 – 10 c ) dengan ketentuan daging I daging dimasukkan dalam plastik poli etilen dan rekatkan, daging II daging dibiarkan terbuka dalam refrigerator,amati perubahan yang terjadi pada daging setiap hari selama lima hari, daging diukur dan ditentukan kadar air masing – masing daging. Sedangkan pengemasan produk ternak yang dilakukan, yaitu menyiapkan susu segar sebanyak 0,5 liter, pasteurisasi susu tersebut pada suhu 72 c selama 15 detik, susu dimasukkan kedalam empat botol, dua botol disimpan pada suhu kamar, dua botol disimpan suhu rendah, salah satu dari botol tutupnya dibuka dalam masing – masing penyimpanan, amati perubahan yang terjadi pada susu setiap 8 jam selama 2 hari, amati hasil perlakuan dan simpulkan hasil pengamatan dalam laporan saudara.
Adapun cara kerja yang dilakukan dalam curing ini adalah adalah menyiapkan dua potong daging masing – masing 100 gram, buat larutan yang terdiri atas 7,26 gram garam, 2,70 gram gula, 0,23 gram sodium nitrat dan 45,5 ml air, dan buat larutan lain tanpa sodium nitrat, masukkan masing – masing daging dalam larutan tersebut, simpan dalam suhu refrigerator selama tujuh hari dan amati perubahan yang terjadi, amati perlakuan dan simpulkan hasil pengamatan dalam laporan saudara.
Adapun cara kerja dalam Pengawetan dengan fermentasi yang dilakukan adalah siapkan satu liter susu dan dipanaskan sampai mendidih sambil diaduk, kemudian diangkat, tambahkan susu bubuk, kemudian dinginkan dan susu dibagi menjadi tiga bagian : susu YK – ditambah yakult dua sendok teh, YK – 2 ditambak yakult tiga sendok teh, YK – 3 ditambah yakult empat sendok teh, masukkan kedalam botol yang tertutup rapat biarkan pada suhu kamar dan disimpan selama 12 – 14 jam, amati perubahan yang terjadi selama proses fermentasi, kemudian lakukan uji organoleptik, amati perlakuan, dan simpulkan hasil pengamatan dalam laporan saudara.
Adapun cara kerja dalam Pengawetan dengan pembekuan, yang dilakukan adalah karkas ayam dibelah menjadi dua bagian, yaitu karkas kiri dan karkas kanan, timbang masing  masing irisan karkas selanjutnya masukkan dalam kemasan plastik dan beri tanda, kemasan dimasukkan kedalam freezer selama 48 jam, setelah lunak keluarkan irisan karkas dari kemasan plastik dan ditimbang hitung dripp irisan karkas.

  
     % dripp =  Bobot sebelum dibekukan – Bobot setelah di thawing  x 100 %
                                   Bobot sebelum dibekukan

Adapun cara kerja dalam Pengawetan dengan pengeringan, yang dilakukan adalah memisahkan daging ayam dari tulang, kulit dan lemak, kemudian dicacah dan dihaluskan dengan food prosessor, haluskan semua bumbu yang tersedia kemudian dicampur dengan daging ayam dalam food prosessor, siapkan daun pisang dengan permukaan atasnya di lumurin dengan minyak sayur, kemudian buat lapisan tipis adonan dendeng diatas permukaan daun pisang, karingkan dalam oven dengan dua perlakuan, yaitu dendeng dikeringkan dalam oven selama 36 jam pada suhu 60 c dan dendeng kedua dikeringkan dalam oven selama 72 jam pada suhu 40 c, kemudian ukur kadar air dengan memanaskan botol timbang dalam oven 105 c selama ½ jam, kemudian masukkan dalam desikator dan tutup rapat kemudian ditimbang, masukkan sampel seperlunya kedalam botol timbang, kemudian timbang dan catat berat botol beserta sampel, kemudian masukkan dan panaskan botol timbang dalam oven pada suhu 105 c selama 24 jam, kemudian ambil dan dinginkan dalam desikator dan selanjutnya ditimbang catat beratnya, kemudian hitung kadar air bahan.
Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum ini yaitu siapkan daging sapi sebanyak 1-2 gram, kemudian letakkan dalam plastik perak detection, kemudian sampel daging yang ada pada kertas perak detection diletakkan diatas ruang infrared medium, dan peralatan moisture balance diinstruksikan, waktu penentuan kadar air akan terdeteksi sampai kadar air diperoleh, hasil kadar air yang diperoleh dibandingkan denga kadar air yang ditentukan. Simpulkan hasil pengamatan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengawetan Alami Pada Telur
                Adapun hasil yang diperoleh pada pengawetan alami pada olahan hasil ternak adalah bahwa dalam pengolahan hasil ternak yang secara alami pada dasarnya menunjukkan kualitas olahan yang sederhana. Artinya rentan waktu yang dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas dan kuatitas daripada hasil olahan ternak tersebut adalah rendah.
            Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil pengamatan terhadap pengawetan alami pada telur, sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan pada Pengawetan Alami pada Telur

Peubah

Perlakuan
Pengamatan hari ke
1
2
3
4


Bau
T-1
Normal
Normal
Normal
Normal
T-2
Normal
Normal
Rusak
Rusak
T-3
Normal
Normal
Rusak
Rusak
T-4
Normal
Normal
Normal
Rusak


Warna
T-1
Normal
Normal
Normal
Normal
T-2
Normal
Normal
Rusak
Rusak
T-3
Normal
Normal
Rusak
Rusak
T-4
Normal
Normal
Normal
Rusak


Viscositas
T-1
Normal
Normal
Normal
Normal
T-2
Normal
Normal
Normal
Rusak
T-3
Normal
Normal
Rusak
Rusak
T-4
Normal
Normal
Normal
Rusak
           
            Dari hasil pengamatan pada tabel diatas yang telah dilakukan selama 4 (Empat) hari maka dapat kita lihat bahwa telur dengan perlakuan T-I yaitu tingkat keawetannya lebih mendominasi dibandingkan dengan perlakuan yang lain, hal ini disebabkan perlakuan T-I masih memiliki kerabang atau cangkang yang berfungsi untuk melindungi telur (isi telur) dari kelangsungan hidup mikroorganisme yang merupakan penyebab kerusakan pada telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf , M  (2007), yang mengatakan bahwa kerabang telur berfungsi melindungi telur dari tekanan fisik dari luar, dan sebagai penetrasi mikroorganisme dari luar yang dapat menyebabkan kerusakan, dan penghalang penguapan  CO2 dan H2O.
Sedangkan pada perlakuan T-II telur yang dipecahkan berubah drastis menjadi amis baik dalam pengamatan bau, warna dan viscositas sangat berobah derastis, pada hari ketiga kuning dari pada telur tersebut sudah mengalami pemisahan dengan putih telur tersebut sebab terjadinya  pemisahan dari pada kuning dan putih telur tersebut, ketinggian kuning telur menyusut akan tetapi telah melebar (pecah), serta bau tidak sedap lagi dan pada hari berikutnya ketinggian telur semakin menyusut atau berkurang dan pada hari selanjutnya putih telur sudah mengalami pengebceran serta aroma sudah mulai agak busuk, sesuai dengan pendapat Adnan, M (2002), yang menyatakan bahwa pada telur yang sudah pecah akan mudah atau cepat mengalami kerusakan, karena akibat mikroorganisme yang ada didalam telur tersebut akan cepat tumbuh dan berkembang, sehingga telur tersebut akan rusak atau sudah berbau amis bahkan akan berbau busuk. bahwa pH, protein yang kental dan suhu tempat penyimpanan berperan sebagai mempengaruhi kerusakan dari pada telur.
            Telur dengan perlakuan T-III (direbus) tidak tahan lama, sebab sudah mengalami pembusukan pada hari ke empat dimana pengawetan alaminya telah hilang akibat dari pada perebusan yang dilakukan, kerusakan tampak dilihat dengan tumbuhnya jamur pada bagian telur tersebut dan perubahan warna tidak jelas (pecah). Hal tersebut sama dengan perlakuan T-IV dimana perlakuan ini hari kedua sudah mulai terlihat proses perubahan meskipun belum sepenuhnya, hal tersebut jelas mengurangi kualitas daripada telur tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim , (2007), yang mengatakan bahwa kualitas telur ditentukan oleh dua faktor yaitu kulit luar meliputi ; kulit cangkang, bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit, sedangkan yang kedua faktor dalam telur meliputi  kekentalan telur bagian putihnya, warna serta posisi dari pada kuning telur dan ada atau tidaknya terdapat noda pada putih dan bagian kuning telur.
4.2  Pengawetan Dengan Penggaraman
            Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum pengawetan dengan penggaraman tersebut yaitu bahwa kualitas pembuatan telur asin lebih efisien dengan cara kering dibandingkan dengan cara basah. Hal itu jelas terlihat daripada kualitas telur asin yang telah diuji. Efisiensi penyerapan garam jauh lebih besar terjadi pada telur asin dengan cara pembalutan (dengan media kering).
            Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan perbandingan kualitas dan kuantitas daripada telur asin yang dibuat dengan cara basah dan dengan cara kering, sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Pengamatan Telur Asin dengan Pengawetan cara Penggaraman
Penggaraman
Unit Telur
Bobot Awal (gr)
Bobot Akhir (gr)
Penyusutan (%)
Volume
Ml
Berat jenis (BJ)


Basah
1
70,9
70,7
0,0028
70
1,01
2
71,6
71,6
0
80
0,86
3
66,7
66,7
0
65
1,026
4
68,9
69,0
-0,00145
70
0,98
5
64,9
60,6
0,066
60
1,081
Rataan

68,6
67,72
0,01347
69
0,79



Kering
1
65,6
66,6
-0,0152
50
1,31
2
66,7
61,7
0,0749
40
1,51
3
65,6
65,2
0,0061
60
1,09
4
61,0
59,8
0,0197
55
1,019
5
57,6
60,3
-0,047
50
1,152
Rataan

63,3
62,7
0,0385
51
1,2162

Hasil dari pembuatan telur asin dengan metode basah sebagai berikut :Rasanya asin, teksturnya seperti pecah-pecah, baunya kurang menyengat.  Pada hasil metode kering adalah : rasanya asin, teksturnya merekat atau padat, dan baunya enak. Untuk menjaga kesegaran dan mutu isi telur, diperlukan teknik penanganan yang tepat, agar nilai gizi telur tetap baik serta tidak berubah rasa, bau, warna,dan isinya. Serta didalam proses pembuatannya pun dibutuhkan kebersihan agar kualitas telur tersebut baik.sesuai dengan pendapat Soeparno, (2006) yang menyatakan bahwa produk produk telur secara tradisional minsalnya diasinkan mempunyai mutu mikrobiologi yang berbeda dengan produk olhan lainnya.
Sedangkan pada kualitas citarasa daripada telur yang diamati baik dengan metode basah maupun metode kering sagat berbeda kualitasnya, hal itu dapat dinilai daripada kualitas warna yolk (kuning telur), albumen (putih telur), serta rasa daripada yolk dan albumennya. Praktikan dengan pengujian terhadap masing-masing telur menunjukkan kualitas rasa yang berbeda-beda. Namun secara umumnya, penguian citarasa terhadap telur asin lebih disukai bagian telur yang diolah dengan cara basah (dengan cara pembalutan).
Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan kualitas daripada telur asin terhadap citarasa, baik telur asin dengan media cair maupun media kering. Sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Pengamatan Citarasa Telur Asin dengan Pengawetan Penggaraman

Penggaraman

Nilai Hendonik
Bau
Warna
Tekstur
Rasa
Alb.
Yolk
Alb.
Yolk
Alb.
Yolk
Alb.
Yolk


Basah
Sangat suka
-
-
-
    -
-
-
-
Suka
-
-
Tidak Suka
 
     -
    -
     -
    -
    -
   -
   -
Sangat Tidak Suka
    -
     -
    -
     -
    -
   -
   -
   -


Kering
Sangat suka
-
-
­-
-
Suka
-
-
-
-
Tidak Suka
    -
 -
     -
     -
-
-
-
-
Sangat Tidak Suka
    -
     -
    -
     -
-
-
-
-












           
Berdasarkan data dalam tabel diatas yang diperoleh untuk pengamatan citarasa bahwa pada umumnya untuk penggaraman basah memiliki nilai hedonik yang cukup baik, karena dari bau dan warnanya yang bernilai suka, sedangkan untuk tekstur dan rasanya bernilai biasa saja. Dan untuk penilaian penggaraman kering memiliki nilai hedonik yang cukup baik, juga karena dari bau, tekstur, dan rasanya bernilai biasa saja, sedangkan untuk warna dan rasanya bernilai suka. Sesuai denga pendapat (Winston, 2003), yang menyatakan bahwa didalam memberikan nilai hedonik untuk pengawetan dengan penggaraman ini bernilai cukup baik apabila nilai hedoniknya mendapat nilai suka dan biasa dan tidak ada pernyataan tidak suka.


4.3 Pengawetan Dengan Pengemasan
            Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum pengawetan dengan pengemasan terhadap produk hasil ternak yaitu pada pengawetan dengan pengemasan ini dapat dibahas terperinci yaitu bahwa pengemasan merupakan suatu cara dalam memberikan kondisi sekeliling yang tepat bagi bahan pangan dan dengan demikian membutuhkan pemikiran dan perhatian yang lebih besar daripada pengawasan yang biasanya diketahui. Semua bahan pangan mudah rusak dan hal ini berarti bahwa setelah suatu jangka waktu penyimpanan tertentu ada kemungkinan untuk membedakan antara bahan pangan segar dengan bahan pangan yang telah disimpan selama jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi merupakan suatu kerusakan. Meskipun demikian, sebagian bahan pangan mungkin terjadi matang atau tua setelah dikemas dan memang ada perbaikan dalam waktu singkat tetapi kemudian diikuti oleh kerusakan (Brody, 2000).
a.      Pengemasan dengan pendinginan.
Pengemasan dengan pendinginan menunjukkan efisiensi suhu yang lebih rendah untuk pengemasan bahan pakan. Dengan suhu yang rendah, akan lebih menutup pori pengeluaran air pada permukaan bahan pangan tersebut. Selain itu tentu Aw dalam bahan pangan akan lebih rendah, yang dapat menimbulkan kerusakan didalam bahan pangan tersebut. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil pengamatan pada pengawetan dengan pengemasan dalam pengemasan dengan pendinginan, sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Pengamatan pada Pengawetan dengan Pengemasan
Pengamatan
Daging
Pengamatan pada hari ke
1
2
3
4
5


Warna
I
Merah segar
Merah pucat
Merah pucat
Merah kecoklatan
Merah Kecolatan
II
Merah segar
Merah pucat
Merah tua
coklat
Coklat keputihan

Tekstur
I
halus
halus
halus
kasar
Kasar
II
halus

halus
kasar
Kasar
Kasar
Konsistensi
I
kenyal
kenyal
 kenyal
lembek
Lembek
II
kenyal
kenyal
lembek
lembek
Lembek

Bobot awal
I
II
31,2
46,1



-
-

Bobot akhir
I
II
-
-



29,1
42,5













Dari pengamatan yang didapat dngan perlakuan daging 1 : yang dilakukan dengan memasukan daging didalam kantong plastic poli etilen yang merupakan plastik yang kuat, transparan, dan mudah dibentuk atau direkatkan dengan panas, dan disimpan dengan suhu dingin atau refrigerator cendrung seedikit sekali mengalami perubahan baik dari segi perubahan fisik maupun perubahan kimia. Hal ini menandakan bahwa pengemasan plastic berjalan dengan baik dan didukung oleh penyimpanan pada suhu dingin refrigerator. Dan cara pengemasan ini sama dengan pendapat Buckle (2004) yang menyatakan bahwa pengemasan sangat dibutuhkan untuk daya simpan yang cukup lama, cara yang dijelaskan diatas disebut pengemasan dengan pendinginan. Oleh sebab itu menurut Adnan (2002) dengan tahap pendinginan sangat brpengaruh terhadap makanan yaitu : penurunan kimia mikrobiologi dan biokimia yang berhubungan dengan kelayuan, kerusakan dan pembusukan pada suhu dibawah 0oc terjadi penurunan Aw.
            Dari pada perlakuan yang kedua daging tersebut dibiarkan dalam keadaan terbuka dan dimasukan kedalam refrigerator akan cepat mengalami perubahan warna daging merah hati menjadi merah kehitam-hitaman baik pada permukaan dan tngah daging tersebut. Pernyataan ini sama dengan pendapat Keaginan (2004), yang menyatakan bahwa kualitas daging pada saat dipotong dan dibiarkan dalam kadaan terbuka maka dalam keadaan waktu yang singkat pula mikroorganisme akan merusaknya, hal ini disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan dan cara penyimpanan daging ini juga sangat mempengaruhi. Sebab perlakuan yang salah akan mngabaikan kebersihan dan membuat daya simpan daging menjadi relative singkat.

       b.    Pengemasan Produk Ternak
            Dalam pengemasan produk ternak tentu harus memperhatikan pada syarat pengemasan yang dianjurkan. Hal ini menjadi ketentuan besar dalam perubahan kualitas maupun kuatitas daripada bahan panagn tersebut, jika terdapat ketidaksesuaian dalam pengemasan bahan pangan tersebut. Dalam penyimpanan pada suhu ruang akan menunjukkan bahan pangan yang efisien mengalami perubahan terhadap teksturnya. Berbeda dengan bahan pangan yang disimpan dalam suhu yang rendah. Aktifitas mikroba perusak akan lebih cepat dan efisien untuk mengubah struktur biologis maupun mekanis daripada bahan pangan tersebut. Davis (2002), yang menyatakan bahwa apabila suhu penyimpanan yang cukup rendah dan perubahan kimiawi selama pembekuan dan penyimpanan beku dapat dipertahankan sampai batas minimum, maka mutu makanan beku dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang cukup lama.
            Berikut ini adalah hasil pengamatan terhadap bahan pangan yang diamati dalam pengawetan dengan pengemasan pada suhu kamar, sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil Pengamatan Pengawetan dengan Pengemasan pada Suhu Kamar

Pengamatan

Waktu (jam)
Bentuk penyimpanan
Hari ke
1
2



Warna
Awal
Tebuka
Putih susu
-
Tertutup
Putih susu
-
16
Tebuka
Putih susu
Putih Kekuningan
Tertutup
Putih susu
Putih Kekuningan
24
Terbuka
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Tertutup
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan



Bau
Awal
Tebuka
Bau khas susu
Tidak bau
Tertutup
Bau khas susu
Bau basi
16
Tebuka
Bau susu
Tidak bau
Tertutup
Bau susu
Bau basi
24
Terbuka
Tidak Bau susu
Tidak bau
Tertutup
Bau susu
Putih susu



Tekstur
Awal
Tebuka
Encer
-
Tertutup
Encer
-
16
Tebuka
Encer
Mengendap
Tertutup
Encer
Mengendap
24
Terbuka
Encer
Mengendap
Tertutup
Encer
Mengendap


Konsistensi
Awal
Tebuka
Solid
-
Tertutup
Solid
-
16
Terbuka
Solid
Tidak solid
Tertutup
Solid
Tidak solid
24
Terbuka
Menggumpal
Tidak solid
Tertutup
Menggumpal
Tidak solid

Sedangkan pada pengawetan dengan pengemasan yang memanfaatkan suhu dingin (suhu refregerator) menunjukkan kualitas bahan pangan lebih tahan lama dan cukup awet dalam penyimpanannya. Hal ini diakibatkan Aw oleh mikroba yang terdapat dalam bahan pangan telah terhenti. Sehingga penguapan yang terjadi dalam bahan pangan lebih rendah, yang dapat menimbulkan kerusakan dalam bahan pangan tersebut. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil pengamatan pada pengemasan pada suhu refregerator, sebagai berikut:
Tabel 6. Hasil pengamatan pada suhu rendah (refrigerator)

Pengamatan

   Waktu (jam)
Bentuk penyimpanan
Hari ke
1
2


Warna
8
Tebuka
Putih susu
-
Tertutup
Putih susu
-
16
Tebuka
Putih susu
Putih susu
Tertutup
Putih susu
Putih susu
24
Terbuka
Putih susu
Putih susu
Tertutup
Putih susu
Putih susu


Bau
8
Tebuka
Bau susu
-
Tertutup
Bau susu
-
16
Tebuka
Bau busuk
Bau amis
Tertutup
Bau susu
Bau susu
24
Terbuka
Bau susu
Bau amis
Tertutup
Bau susu
Bau susu


Tekstur
8
Tebuka
Encer
-
Tertutup
Encer
-
16
Tebuka
Encer
Encer
Tertutup
Encer
Encer
24
Tebuka
Encer
Encer
Tertutup
Encer
Encer


Konsistensi
8
Terbuka
Solid
-
Tertutup
Solid
-
16
Terbuka
Solid
Solid
Tertutup
Solid
Solid
24
Terbuka
Solid
Solid
Tertutup
Solid
Solid

Dari hasil pengamatan menggunakan susu yang akan dipasteurisasi dan disimpan didalam keadaan suhu kamar dan suhu rendah (refrigerator) dan diamati selama 2 hari dalam waktu 16-24 jam, dihasilkan pada hari pertama susu yang disimpan pada suhu kamar dan refrigerator yang dalam keadaan terbuka warna putih susu, sedangkan hari kedua pada suhu kamar, susu tersebut berwarna putih kekuningan sedangkan pada suhu rendah warna masih tetap putih susu, dan susu yang dalam keadaan tertutup baik hari 1 maupun hari 2 warna tetap sama yaitu putih susu, sedangkan hari ke2 susu yang dalam keadaan trbuka dan diletakan pada suhu kamar baunya sedikit asam, pada hari ke2 bau tambah asam, sdangkan yang diletakan dalam refrigerator hari pertama bau masih khas susu, dan hari kedua baunya agak asam dan tekstur maupun konsistensi masih dalam keadaan halus dan terjadi penggumpalan dibagian atas, dan keadaan tertutup suhu tersebut menjadi kental. Dan menurut pendapat Lawrance dan Resister (2005) menyatakan bahwa susu akan berubah kental atau menggumpal dan keruh disebabkan karma adanya aktivitas bakteri, sehingga dapat mnyebabkan perubahan warna susu, misalnya menyebabkan susu kental menjadi kuning-kekuningan.

4.4 Curing (pengawetan dengan bahan kimia)
            Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum curing (pengawetan dengan bahan kimia) tersebut, dijelaskan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 7. Hasil Pengamatan Kualitas Warna Daging melalui Pengamatan Curing (Pengawetan dengan Bahan Kimia)
Perlakuan Daging
Perubahan Warna pada Hari Pengamatan ke
1
2
3
4
5
Diberi Sodium Nitrit
Merah
Merah Pucat
Putih pucat
Putih pucat
Coklat pucat
Tanpa Sodium Nitrit
Merah
Merah Pucat
Putih kemerahan
Putih kemerahan
Coklat kebiruan
Sebelum Perebusan
-
-
-
-
Merah pucat
Setelah Perebusan
-
-
-
-
Pink pucat
                                                       
Dari hasil yang didapat bahwa daging sapi maupun kerbau dapat diawetkan dngan cara apapun, termasuk dengan curing yang menggunakan, dan dengan proses pembekuan ataupun proses pemanasan dan dehidrasi pengeringan. Dan menurut Hadiwiyoto (2001) yang menyatakan bahwa daging dapat diawetkan dengan proses pembekuan, proses format (pemanasan) dan dehidrasi pngeringan.
            Serta dari data diatas menunjukan bahwa cara curing tanpa nitrat dengan hari pertama warna merah semakin lama semakin merah kecoklatan hingga hari keenam dia mulai kembali kewarna semula namun hanya sedikit kehitam-hitaman dari warna sebelumnya. Dan Hadiwiyoto (2003) menyatakan bahwa persiervasi daging dilakukan dengan cara curing (penambahan campuran garam-garam) seperti yodium nitrat atau sodium nitrat gula merahnya deksentosa, sukrosa atau pati, terhidrolisis dengan bumbu-bumbu. Serta hasil-hasil yang didapat, banyak kimia, yang bisa dicampurkan untuk mengawetkan daging, dan hasil ini sesuai dengan pendapat Suparno (2007) yang menyatakan bahwa pengemasan juga merupakan deternatif yang baik untuk mengawetkan daging, misalnya asetat dan propionat.

4.5 Pengawetan dengan fermentasi
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh daripada praktikum pengawetan dengan fermentasi, dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Pengamatan pada Pengawetan dengan Fermentasi
Pengamatan
Pelakuan
YK- 1
YK - II
YK – III
Warna
Putih
Putih
Putih
Bau/aroma
Sedikit asam
Yakult (Asam)
 Susu basi (Asam tajam)
Kekentalan
Kental
Kental
Kental
Rasa
Sedikit asam
Asam
Asam tajam
Hasil yang didapatkan setelah susu dibiarkan pada suhu kamar selama 12-14 jam maka diperoleh putih susu, bahwasanya penambahan starterberupa yakullt ke dalam susu menyebabkan terjadinya proses fermentasi kedalam susu yang menbuat susu menjadi asam dan berubah bentuk menjadi kental dan sesuai dengan pernyataan Sutiyoso saputra (2000) yang menyatakan bakteri yang menyebabkan keasaman dan tumbuhnya gas-gas tertentu didalam susu keasaman yang terjadi adalah yang mengakibatkan pengumpulan protein.
Dari data diats dapat diketahi bahwa YK-III merupakan hasil fermentasi yang baikjika dibandingkan dengan YK-I dan YK-II, karena mempunyai warna agak kuning, bau asam yang menyengat dan rasa asam. Hal tersebut karena pada susu YK-III ditambahkan dengan 4 sendok teh yakult, sehingga bakteri Lactobacillus casei yang ditambah kedalam susu lebih banyak dibandingkan dengan yakult yang ditambahkan pada YK-1 dan YK-II. Sehingga pada YK-III akan menghasilkan hasil fermentasi yang lebih baik.hal tersebut sesuai dengan pendapat Buckle (2005) yang menyatakan bahwa fermentasi oleh bakteri akan menghasilkan asam. Produk yang difermentasikan lebih bagus dibandingkan dengan produk yang tidak difermentasi.
Susu yang difermentasi ini akan tahan lebih lama, karena peranan Lactobacillus casei dalam fermentasi yaitu untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Gaman (2006) yang menyatakan bahwa bakteri Lactobacillus casei dalam proses fermentasi yaitu menekan pertumbuhan bakteri pathogen,sehingga produk akan tahan lama, membantu proses pencernaandalam tubuh dan akan menghasilkan rasa asampada produk.
            Sedangkan untuk aroma atau bau dari percobaan yang telah dilakkan ketiga perlakuan YK-1, YK-II, dan YK-III mempunyai bau agak asam atau seperti susu basi, mungkin hal ini karena faktor lamanya penyimpanan. Hal ini bertentangan dengan pendapat Hardjowigeno.S (2000) yang menyatakan bahwa susu yang dicampurkan dengan yoghurt dan yakult maka akan mengeluarkan atau menghasilkan aroma khas susu.
4.6 Pengawetan dengan Pembekuan
Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah.
Berikut ini merupakan hasil pengamatan pengawetan bahan dengan sistem pengawetan dengan pembekuan, dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Perhitungan Dripp dari Karkas Yang Diamati
Irisan/bagian Karkas Ayam
Temperatur Thawing
Bobot Irisan Karkas (gr)
% Dripp
Awal
Akhir
Sayap
Kiri
Suhu Kamar
76,6
76,7
-0,13
Kanan
Refrigerator
65,4
65,7
-0,46
Punggung
Kiri
Suhu Kamar
88,4
88,6
-0,23
Kanan
Refrigerator
130,6
130,4
0,15
Dada
Kiri
Suhu Kamar
259,8
193,4
25,56
Kanan
Refrigerator
296,5
283,3
4,45
Paha Atas
Kiri
Suhu Kamar
192,1
252,5
-31,44
Kanan
Refrigerator
166,3
167,2
-0,54
Paha Bawah
Kiri
Suhu Kamar
108,1
108,8
-0,65
Kanan
Refrigerator
103,3
103,9
-0,58

Karkas dipotong dan dibungkus dalam plastic dan dimasukan kedalam frezer selama 48 jam, kemudian semua bagian karkas ayam di thawing, dalam penthawingan diberi 2 perlakuan, perlakuan irisan karkas ayam sebelah kiri di thawing pada suhu kamar, sedangkan perlakuan 2 bagian karkas ayam sebelah kanan di thawing pada refrigerator, kemudian ditunggu selama 2 jam thawing pada suhu kamar sampai irisan lunak. Dan setelah melakukan penimbangan dapat dilihat bahwa irisan karkas yang di thawing mengalami penurunan bobot. Hal ini disebabkan karena kristal es yang keluar dari irisan karkas (daging), sehingga menimbulkan perubahan baik fisik maupun kimiawi pada sel-sel daging tidak semua air ataupun kristal es yang mencair dapat diikat dan diserap kembali oleh sel-sel jaringan produk, dan hal ini ssuai dengan pendapat Adinan (2005) yang menyatakan bahwa pada suhu dibawah 0oc air akan membeku dan terpisah dari larutan dan membentuk es, yang mirip dengan air yang diuapkan pada proses pengeringan atau selama penurunan Aw. Dan menurut Haris dan Kemas (2009) menyatakan bahwa pada saat produk dicairkan kembali tidak semua air dari kristal akan diserap kembali oleh bahan pangan yang diawetkan maka air yang diserap akan keluar.
Antara daging yang disimpan disuhu refrigerator juga berbeda dimana pada suhu refrigerator berat drippnya lebih banyak daripada disuhu kamar. Hal ini terjadi karena dalam suhu kamar bahan akan kering karena adanya penguapan, sedangkan pada suhu refrigerator akan terjadi pembekuan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrie (2007) yang menyatakan bahwa pada ruangan terbuka bahan akan mengalami perubahan yang berupa adanya penguapan yang dapat menyebabkan kekeringan pada bahan tersebut.

4.7 Pengawetan dengan Pengeringan
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum pengawetan dengan pengeringan adalah bahwa proses penurunan kadar air oleh terhentinya aktifitas mikroba (Aw) adalah bahan pangan, seperti: dendeng akan lebih awet dengan suhu 60 oc selama 36 jam dibandingkan dengan suhu 40 oc selama 70 jam. Hal itu disebabkan oleh mikroba dengan pemanasan pada suhu besar akan lebih cepat terdegradasi dan kadar kerusakan lebih minimum. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Hadiwiyoto (2003), yang menyatakan bahwa penyimpanan bahan makanan yang cukup lama selama suhu 60 oc dan 40 oc akan menyebabkan daging dehidrasi dalam pengeringan, daging merupakan bahan pangan yang sangat mudah rusak, karena daging memiliki senyawa biologis yang masih aktif.
            Berikut ini adalah tabel hasil pengamatan pada pengawetan dengan pengeringan (pembuat dendeng) yaitu:
Tabel 10. Hasil Pengamatan Kadar Air Bahan Pangan
 Perlakuan Pengeringan
 Kode Sampel
Berat (gram) 
Kadar Air (%) 
W1
W2
Suhu 60 oc Selama 24 jam
A1.1
158,4
57
64,02
Suhu 40 oc selama 48 jam
A1.2
161,5
82,1
49,16



            Rataan
55,09
Dari praktikum yang dilaksanakan tentang pengawetan dengan pengeringan, dengan 2 perlakuan yaitu memasuki dndeng kedalam oven dengan pengeringan selama 36 jam  dengan suhu 60oc dan kedua, dendeng dimasukan kedalam oven selama 72 jam dngan suhu 40oc. Dan Saraswati (2004) menyatakan bahwa ada beberapa contoh pengawetan daging, dan 2 cara ini merupakan pengawetan dengan penggunaan suhu tinggi.
            Banyak factor yang mempengarihi proses pengawetan dengan pengeringan yang menggunakan daging tersebut yaitu suhu dan kontaminasi. Dan menurut Mazarnis (2002) menyatakan bahwa factor utama yang mempengaruhi proses pengeringan adalah secara fisik dan kimiawi, pengaturan geometri produk sifat dari lingkungan alat pngeringan dan suhu pengeringan, sehingga pendapat dari Moctadi (2007) yang menyatakan bahwa nilai gizi protein yang tinggi pada daging dapat dipertahankan tanpa menimbulkan pengaruh atas keasaman untuk dikonsumsi.
            Supaya daging tersebut tidak membahayakan manusia dalam mengkonsumsi perlu diperhatikan mikroorganisme yang terdapat dalam daging tersebut apabila mikroorganisme yang menekan. Menurut Frazieri (2007) sependapat dengan hal ini karena dia menyatakan bahwa mikroorganisme yang terdapat dalam daging tersebut, apalagi mikroorganisme yang merugikan, dan khamir, jamur serta bakteri yang dapat merugikan dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya.
            Elvina (2006) menyatakan bahwa dendng sapi dapat tahan lam maka harus disimpan dalam kondisi rapat-rapat dan tidak lemah. Dengan hasil yang didapat dalam penentuan kadar air bahwa dendeng yang dikeringkan dalam oven selama 72 jam dngan suhu 40oc lebih tinggi dari pada dendeng yang dikeringkan dalam oven selama 36 jam dengan suhu 60oc. hal ini sama dengan pendapat Winarno (2000) yang menyatakan bahwa kadar air berkisar 60-70% dan apabila daging tidak mempunyai kadar air terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu kisarannya 15-50% maka daging tersebut dapat tahan lama selama penyimpanan. Dan menurut Saputan (2000) dengan hasil yang sudah didapat kemarin, bahwa kadar air pada dendeng sapi yang digiling lebih tinggi dari dendeng sapi yang diiris, hal ini karena perlakuan fisik dalam pembuatan daging giling menyebabkan air lepas sekaligus dari proses kering penyerapan bahan kering lebih tinggi disbanding daging iris.

 4.8 Penenentuan Kadar Air Dengan Infrared Digital Moisture Balance
            Dari hasil pengukuran kadar air yang menggunakan alat lampu infra merah didapat kadar air pada daging ayam tersebut adalah 51,3 %, hal ini menunjukan bahwa daging tersebut adalah normal, bila dibandingkan dengan kaenormalan atau standar bahan pangan kadar air harus 50-70 % ini sesuai dengan pendapat ( Winarno, 2003), yang menyatakan bahwa daging memiliki komposisi yang terdiri dari 75 5 air, 18 % protein, 4 % protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3 5 lemak. Diperoleh hasil kadar air pada percobaan ini adalah tetap normal. Kemungkinan dalam perlakuan terhadap daging saat dimasukan ke atas aluminium toil adalah kurang dari yang ditetapkan sebanyak 1,522 gr, inilah sebabnya didapat hasil kadar airnya kurang dari 75 %.
            Tingkat kadar air dipengarhui kadar airnya, volume, dan tinggi dalam daging sesuai dengan pendapat (Buckle, 2004), yang menyatakan bahwa untuk mempengaruhi tingkat kadar air yang perlu untuk mempunyai rasio permukaan volume yang tinggi dalam daging oleh karena itu digunakan daging yang sudah dipotong-potong halus.
            Air yang diikat dalam daging dapt dibagi dalam 3 komponen yaitu air yang terikat secara kimiawi olwh protein daging sebesar 4-5 % yang ,merupakan lapisan monomolekuler peartama. Lapisan kedua adalah air yang terikat agak laemah ini molekul air terhadap kelompok hidrofilik yakni sebesar 4 %. Lapisan ketiga merupakan air bebas yang terdapat diantara komponen molekul-molekul protein yanag memiliki jumlah terbanyak. Air bebas terletak dibagian luar sehingga mudah lepas, sedangkan air terikat adalah kebalikan nya dimanan air sulit dilepaskan karena kuat pada rantai protein, dan air dalam bentuk tidak tetap merupakan air labil sehingga mudah lepas bila terjadi perubahan ini sesuai dengan pendap (Purnomo, 2004), yang menyatakan bahwa air bebas dengan mudah hilang bila terjadi pengeringan dan penguapan, sedangkan air terikat sulit dibebaskan denga cara tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar